JOGJA – Setelah sempat terhenti lama dan baru aktif lagi 2013 lalu, Lomba Dagelan Mataram kembali digelar. Event dalam rangka menghidupkan kembali aset kebudayaan yang mulai menghilang itu, berlangsung di halaman Taman Budaya Yogyakarta (TBY) selama dua hari (5-6/9).Hadir sebagai pemenang lomba kali ini adalah Juara I grup lawak Sekar Mataram (dapat uang pembinaan Rp 7 juta), Juara II Jampi Puyeng Rp 6,5 juta), Juara III Esem (Rp 6 juta), Juara IV Sleko (Rp 5,5 juta), Juara V Shinta CS (Rp 5 juta). Para pemenang juga dihadiahi jalan jalan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta.Dagelan Mataram merupakan lawakan khas Jogja. Ia sempat berjaya pada tahun 70-an. Namun seiring perkembangan zaman, lawakan ini mulai menghilang digantikan lawakan yang lebih modern, seperti Opera Van Java (OVJ) atau Stand Up Comedy yang ditayangkan di TV swasta tanah air.
Ketua Panitia Lomba Dagelan Mataram Agus mengatakan, Lomba Dagelan Mataram diadakan dalam rangka pengelolaan keragaman budaya yang ada di Jogjakarta. Tidak berbeda dengan tahun lalu, pemenang lomba tahun ini akan diajak ke TMII. “Lingkup pesertanya sekitar kabupaten/kota di DIY. Harus diakui, untuk sekarang ini mencari grup dagelan sudah sangat sulid. Karena itu para pemenang harus diberi apresiasi tinggi,” kata Agus. Kali ini, lomba diikuti 10 grup lawakan. Pada hari pertama (5/9) telah tampil lima grup lawakan dengan durasi tampil sekitar 30 menit. Dan pada hari kedua tadi malam (6/9) juga lima peserta yang selanjutnya diumumkan para juaranya. Pada pertunjukan malam pertama dan malam kedua mendapat respon cukup baik dari masyarakat. Terbukti dengan banyaknya masyarakat yang datang untuk menonton. Ikut hadir dalam lomba ini, pelawak senior Marwoto. Rosa, penonton asal Jakarta yang kuliah di Jogja mengatakan, pertunjuk lawak kali ini lumayan menghibur. “Meski ada beberapa kata yang kurang saya mengerti (karena kendala bahasa), tapi saya cukup terhibur dengan menyaksikan lawakan para peserta lomba ini,” katanya tadi malam. Agar hasil lomba memiliki kualitas yang lebih, panitia menghadirkan lima juri yang berasal dari profesional, yakni dari akdemisi, praktisi, dan sutradara. (mg1/jko)

Taman Sari