JOGJA – Tak sedikit warga keturunan Tionghoa fasih menggunakan bahasa Mandarin. Di kehidupan sehari-hari, tak jarang diantara mereka menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa keseharian. Termasuk saat mereka beribadah.Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK) Jogjakarta dikenal sebagai gereja yang menggunakan bahasa Mandarin saat ibadah. Alasannya, karena gereja ini didominasi oleh warga keturunan Tionghoa. “Bahasa Mandarin memang menjadi bahasa pengantar saat ibadah, karena mayoritas yang beribadah merupakan warga keturunan Tionghoa,” ujar salah satu jemaat Kris Pujianto Halim kemarin.Tak hanya menggunakan bahasa Mandarin, selain beribadah para jemaat juga tak lupa turut mensyukuri adanya keragaman budaya. Termasuk budaya Tionghoa yang menjadi salah satu budaya yang berkembang di Indonesia. Salah satu bentuk kecintaan pada negeri dan keragaman, secara khusus para jemaat menggunakan pakaian adat daerah. Dengan mengambil momen-momen penting, salah satunya saat peringatan HUT RI pada 17 Agustus lalu.
“Bersama dengan para majelis gereja, gembala sidang GKKK Jogjakarta Pendeta Titus Liem secara khusus mengajak jemaat untuk mengenakan pakaian adat daerah atau pakaian batik. Itu saat mengikuti ibadah untuk memperingati hari proklamasi kemerdekaan RI di hari istimewa tersebut,” paparnya.Dirinya mengatakan melalui kegiatan ini jemaat diajak untuk mengapresiasi salah satu kekayaan budaya Indonesia yang merupakan anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia. Sejak dua minggu sebelumnya persiapan dilakukan dengan mengumumkan kepada jemaat gereja. “Mengenakan pakaian daerah merupakan salah satu kesempatan langka dan tidak bisa dilakukan setiap hari,” ujarnya. (dya/ila)

Taman Sari