ADALAH Pagar Kaki Langit, paguyuban penggemar TTS ini mampu menjawab pendapat tersebut. Buktinya, anggota mereka berjumlah lebih dari 100 orang yang tersebar di beberapa daerah di DIJ, juga di Magelang dan Klaten. Awalnya Pagar Kaki Langit merupakan sebuah perkumpulan orang-orang yang memiliki hobi sama, yaitu mengisi TTS. Saat itu, komunitas ini diresmikan di Semarang. Dalam perkembangannya, komunitas ini mulai membuka wadah baru di Jogja. Bahkan kini Pagar Kaki Langit juga mencakup Jabodetabek. “Pagar Kaki Langit merupakan sebuah wadah yang isinya orang-orang dengan hobi mengisi TTS,” jelas Ketua Pagar Kaki Langit DIJ Muhammad Sukirman kepada Radar Jogja, kemarin (30/8).
Nah, komunitas yang beranggotakan dari berbagai kalangan ini kemudian meresmikan diri untuk wilayah Jogja. Perkembangannya juga pesat. Saat ini, anggota resmi komunitas Pagar Kaki Langit mencapai 200orang. Usia anggotanya mulai dari muda hingga lansia. Mereka saling beradu menyalurkan hobi mengisi TTS. Kegiatan yang dilakukan yakni Ngibar atau ngisi bareng. Ya, ngisi bareng TTS itu menjadi agenda rutin yang dilaksanakan di beberapa tempat sesuai kesepakatan anggota. Uniknya, mereka tidak sekadar mengisi TTS tapi seringkali mengikuti kompetisi. “Kita sering mengirimkan TTS ke beberapa surat kabar. Kalau dapat hadiah, diimbau untuk mengisi kas keanggotaan,” terang pria kelahiran 15 September 1951 itu.
Pria yang tinggal di Pringgokusuman RT 024 RW 006, Kecamatan Gedongtengen, Jogja ini memiliki kepuasan batin ketika bisa menjawab pertanyaan dalam TTS. Itu sekaligus menjalin silaturahmi dengan anggota lainnya. “Namanya juga Sukirman, singkatannya Suka Memikirkan Teman. Makanya didaulat sebagai ketua komunitas,” ungkapnya.Salah satu anggota Pagar Kaki Langit Widiastjarjo mengatakan alasannya masuk dalam komunitas Pagar Kaki Langit karena didasari kesukaannya mengisi TTS. Pensiunan PNS di Jogja itu mengaku dengan kesibukannya mengisi TTS, bisa mencegah kepikunan. Sebab ia harus menjaga daya ingat serta memiliki perbendaharaan pengetahuan agar bisa menjawab pertanyaan dalam TTS. “Manfaatnya bisa melatih otak kanan. Mengisi TTS juga bisa menunda kepikunan,” terangnya.
Pria kelahiran Jogja 11 Mei 1951 ini menambahkan komunitas merupakan wadah untuk menjaga silaturahmi dan memperbanyak pertemanan. Di dalam Pagar Kaki Langit sendiri, berbagai macam status sosial ada. Mulai dari tukang becak, peagang kaki lima, sampai profesor pun ada.Hal senada dikatakan Suphiani Soeprapto. Sejak kecil ia memang gemar mengisi TTS. Sehingga kegiatan semacam ini bukan hal yang baru baginya. Apalagi saat Ngibar, momentum itu menjadi pemicu semangat agar otak bisa cepat berpikir. “Prinsipnya menjalin silaturahmi dengan semua anggota. Apalagi manfaatnya juga banyak,” kata Suphiani. (fid/ila)

Taman Sari