SLEMAN – Dunia kreatif para seniman di Jogjakarta turut melahirkan tempat-tempat berapresiasi yang baru. Salah satunya adalah 9m15s atau Sembilan Seperempat atau Nine Minutes Fifteen Seconds. Ajang yang digelar rutin secara berkala ini merupakan wadah ide maupun konsep sebuah karya. Dalam penerapannya, ajang ini tidak memiliki tempat yang tetap. Alasannya, untuk melihat potensi seni secara luas dan tidak terkotakan. Ajang ini pun kembali digelar beberapa waktu yang lalu di Sangam House, Depok, Sleman. “Tempat memang dikonsep untuk berpindah-pindah. Beberapa tempat pernah kita singgahi seperti Teater Garasi, Sarang Building hingga ARK Galerie. Tujuannya juga membuktikan bahwa Jogjakarta itu kota seni secara luas,” kata salah seorang pengurus Theodorus Christanto.
Selain itu dengan konsep ini juga ingin membongkar tentang adanya mitos benteng antara seniman utara dan selatan. Menurut Theo seniman Jogjakarta tidak bisa dikotakan secara regional. Dengan adanya perbedaan ini justru menjadi ajang berbagi. Untuk konsep pementasan sendiri, setiap seniman tampil dengan batasan waktu. Sesuai judul, setiap seniman diberikan waktu 9 menit 15 detik untuk tampil. Para seniman ini diberikan kebebasan untuk meluapkan ide kreatif mereka. Bahkan ajang ini juga bisa dijadikan sebagai pemaparan konsep mentah sebuah karya. “Istilahnya ini adalah tempat untuk melakukan kesalahan. Setelah mereka tampil akan ada respon langsung dari penonton. Waktu disini bukanlah batasan, tapi sejauh mana mereka bisa meluapkan ide karya mereka,” kata pengurus lainnya Ferial Afiff.
Meski sebagai tempat peluapan ide mentah, namun tetap ada aturan khusus. Terlebih acara ini bukan bertujuan sebagai ajang spontanitas para seniman. Sehingga seniman yang hadir harus memiliki konsep terlebih dahulu untuk dipentaskan.
Ajang ini lebih mirip sebuah wujud interaksi seniman dengan penonton secara langsung. Setelah sesi penampilan dilanjutkan dengan ajang sharing. Di sini setiap seniman yang tampil diberikan kesempatan untuk merepresentasikan karya yang mereka tampilkan. “Sehingga sudut pandang seniman dan penonton bisa bertemu. Ada proses bertukar ide dan tidak hanya melihat dan menikmati karya. Sehingga keterlibatan interaksi komunikasi sangatlah penting,” kata Ferial.
Dalam edisi 9m15s kemarin menampilkan dua seniman lintas disiplin ilmu. Mila Rosinta Totoatmojo dengan background tarinya menampilkan karya berjudul Dimensi Paralel. Sedangkan seniman kedua adalah perupa Dedet Yusri Robiadi dengan karya seni pertunjukan berjudul Ruang dan Waktu.
Karya milik Mila bercerita tentang pilihan dalam melakoni sebuah kehidupan. Sebagai manusia, setiap insan dihadapkan pilihan yang tidak tahu ujungnya. Sehingga semua pilihan hidup ini tetap harus dijalani tanpa harus melihat hasil akhir sebagai tujuan utama. Sedangkan Dedet tampil unik dengan tampil diluar disiplin ilmunya. Sebagai pelukis, Dedet justru memilih tampil dengan seni pertunjukan. Hal ini bertujuan untuk mengeksplorasi kemampuan diluar ilmunya. (dwi/ila)

Taman Sari