MASSAGE atau pijat bukan hal asing bagi masyarakat negeri ini. Bagi sebagian masyarakat, pijat sudah jadi bagian hidup sejak bayi hingga berusia lanjut. Tidak sedikit orang tua yang memijatkan bayinya saat rewel dan susah makan. Demikian halnya para orang tua yang langsung pergi atau memanggil tukang pijat saat badan terasa pegal dan kaku. Seiring perkembangan zaman, pijat pun dikemas lebih menarik. Tidak hanya sebagai refleksi namun juga relaksasi dan perawatan tubuh agar selalu segar dan fit. Tak heran jika pijat tradisional digemari karena khasiatnya positif bagi tubuh. “Di tempat kami pijat ini juga digemari oleh wisatawan Tiongkok, Eropa dan
Amerika yang lebih menyukai pijatan lembut namun penuh aroma spa tradisional Indonesia,” ujar Public Relations Executive Sheraton Mustika Jogjakarta Resort and Spa Khairul Anwar belum lama ini. Dirinya mengatakan salah satu pijat tradisional yang jadi andalan Taman Sari Royal Heritage Spa yakni Patekan Tatahusada. Treatment ini digolongkan ke dalam Aromatherapy Massage dengan lama pijatan 90 menit.
Pijatan ini telah lama menjadi resep kesehatan di kalangan Keraton Solo. Kombinasi banyak teknik pijatan berbeda, acupressure, pijat gulung dan tekanan-tekanan dalam gerakan yang bervariasi ini akan menghasilkan kenyamanan tubuh. Bahkan bisa menyembuhkan otot yang kejang dan menyegarkan badan. “Aromaterapi akan merelaksasi pikiran, sedangkan pijatannya akan membuat tubuh makin rilesk, sehingga satu perawatan akan memberikan banyak khasiat,” ujar Khairul.
Diawali dengan bersih kaki menggunakan air hangat suam kuku dan pijatan lembut. Lalu badan diolesi minyak kedelai agar kulit sensitif tidak teriritasi. Proses dilanjutkan dengan pijatan-pijatan dengan menggunakan ramuan jamu yang terbuat dari kunyit, pandan, temu giring atau sering dinamakan Harum Sari Herbal. Ramuan herbal ini dibungkus dengan kain belacu dan telah dihangatkan secara tradisional di tungku api. “Perawatan ini disebut juga pijat jamu karena bahan-bahannya merupakan herbal yang juga biasa digunakan untuk membuat jamu,” ujar Khairul. (dya/ila)

Taman Sari