Bagi Goet Poespo, batik tidak akan pernah ada habisnya untuk dieksplorasi. Bahkan setelah melampaui tiga era berbeda, dia tetap konsisten untuk emngangkat batik di dunia fesyen di ranah lokal, naisonal bahkan hingga internasional.
Seperti koleksi berjudul Greating Season yang belum lama ini dia tampilkan. Koleksi hasil kerjasamanya dengan Nita Kenzo dari Galeri Batik Jawa ini menunjukan karakter rancangannya yang menawan. Namun tetap terbalut dalam kesederhanaan.”Semua motif klasik, saya tidak pernah memakai motif modern, karena motif klasik nilai historisnya kental sekali,”ujar pemilik nama asli Wishnu Goentoro Poespo ini.
Sesuai dengan judulnya, pria yang berkiprah di dunia fesyen sejak tahun 1950-an ini ingin menyapa semua pecinta fesyen lewat koleksi yang tidak hanya bisa dikenakan di Negara dua musim, tetapi juga empat musim.
Desain-desain batik untuk musim gugur dan musim dingin dimunculkan dalam bentuk yang lebih casual. Masih menggunakan bahan dasar katun, beberapa koleksi ponco, jaket, blazer untuk pria dan wanita lengkap dengan topi batik berbulu ditampilkan. Koleksi ini menguatkan anggapan bahwa batik juga bisa dikenakan dinegara-negara bermusim dingin. Untuk itu, bulu-bulu menjadi penetralisir dan pembuat hangat dari koleksi batiknya kali ini.
“Saya sempat lama tinggal di Australia, banyak dari orang luar yang mengira kalau batik tidak bisa digunakan saat winter. Lalu saya jawab, kenapa tidak,”ujarnya.
Tak ketinggalan, koleksi kemeja pria dan gaun malam berbahan batik warna biru sogan juga ditampilkan. Permainan cutting yang juga menjadi cirri khasnya memberikan kesan elegan namun klasik.”Baik itu elegan, digunakan diberbagai acara karena motifnya yang klasik tetap memberikan kesan anggun si pemakainya,”ujar Goet.(dya/din)

Taman Sari