SLEMAN – Katakan Yes jika benar, katakan No kalau salah. Demikian yang menjadi motto caleg Partai Nasdem Andreas Budisusetia. Dia mengajukan diri sebagai caleg dari daerah pemilihan (Dapil) Kota Jogja.

Kesuksesannya sebagai seorang kontaktor, membuatnya lebih banyak menyoroti pesoalan kawasan padat penduduk di Kota Jogja. Termasuk penataan kota yang saat ini sudah dinilai padat lalu lintas.

Menurutnya, kawasan kota selain padat lalu lintas juga terjadi keruwetan. Masih perlunya pembenahan pemisah atau devider. Sebab devider berperan penting dalam mengurangi keruwetan jalan.

“Kalau devidernya tepat, dapat mengurangi kemacetan. Kalau tidak tepat pasti terjadi keruwetan lalu lintas. Tentunya kalau terjadi keruwetan ini akan mempersulit masyarakat karena mereka harus memutar dan menghabiskan waktu,” tuturnya.

Disamping itu, Jogja sebagai Kota Pendidikan tampaknya belum memaksimalkan adanya asrama mahasiswa. Sehingga tak sedikit mahasiswa yang mencari kos atau kontrakan yang agak jauh dari lokasi dia menuntut ilmu.

“Saya ingin ada banyak asrama mahasiswa yang nantinya menjadi penopang majunya Jogjakarta,” terangnya saat Morning tea with the Candidate di Kantor Radar Jogja.

Selain persoalan infrastruktur, Andreas juga banyak menyoroti tentang perdagangan di Jogja. Menurutnya, mal lebih mendominasi dibandingkan produk UMKM masyarakat. “Seandainya ada wadah semacam supermarket khusus produk UMKM, saya kira akan membantu menyejahterakan masyarakat bawah,” tutur pria yang memandang Bung Karno dan Surya Paloh sebagai sosok yang menginspirasinya.

Terkait, cara menggaet suara pada Pemilu nanti, Andreas mengaku tak terlalu banyak agenda. Sebagai orang yang aktif berorganisasi dan berkegiatan di tengah masyarakat, baginya itu sudah menjadi satu cara kampanye tersendiri.

“Tak ingin memberikan janji-janji, mendengarkan aspirasi, mencarikan solusi, serta berkonstribusi itulah tugas anggota dewan. Ya, terjun langsung ke bawah, melihat ke lapangan,” tegasnya. (cr6/ila)

The Candidate