SLEMAN – Dani Eko Wiyono mengaku miris dengan upah buruh di DIJ yang dinilai paling rendah se-Indonesia. Sementara harga-harga kebutuhan relatif sama di semua daerah. Selain itu, harga tanah dan hunian terus mengalami kenaikan yang tinggi. Akibatnya, jika kondisi tersebut terus terjadi maka lama-lama nanti banyak yang jadi tunawisma.

“Kebutuhan hidup layak sekitar Rp 2,5 juta. Sementara upah tertinggi di kota Rp 1,7 juta, UMP DIJ Rp 1,4 juta. Sementara harga tanah dan rumah mahal. Warga Jogja juga lama-lama akan menjual asetnya untuk menutupi kebutuhan,” katanya saat Morning Tea with The Candidate di Radar Jogja.

Menurut bacaleg DPRD DIJ daerah pemilihan (Dapil) Sleman dari PSI itu, upah layak di Jogja sekitar Rp 3 juta, apalagi untuk buruh yang telah berkeluarga. Saat ini banyak buruh yang bekerja di beberapa industri tapi upah rendah sementara harga terus naik.

“Bagaimana bisa beli rumah. Belum ada yang memperjuangkan bahwa gaji yang layak di Jogja harusnya segini,” ujar alumnus S2 Teknik Industri UII yang sekarang menekuni IT development dan dosen tersebut.

Warga yang berdomisili di Jalan Kaliurang Km 9,2, Ngaglik Sleman itu menyebut, banyak orang bercerita Jogja merupakan kota pendidikan dan kreativitas. Padahal, menurutnya, yang dipikirkan pertama adalah perut, sehingga bagaimana bisa berpikir pendidikan atau kreativitas kalau pendapatannya rendah.

Dani juga menyebut, masalah kesejahteraan mempunyai efek domino. Jika kedua orang tua bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan, kontrol keluarga terhadap anak longgar. Salah satu dampaknya menurutnya tingginya KDRT dan klithih.

“Kalau saya nanti diberi amanah jadi anggota DPRD, akan saya datangi serikat pekerja. Mengupayakan meningkatkan upah UMR. Namun bukan berarti membuat pengusaha susah,” tuturnya.

Sebagai langkah awal, pria kelahiran Palembang, 3 Oktober 1980 itu mengaku sudah mulai memahami masalah yang ada di daerah pemilihannya. Termasuk program yang dapat ditawarkan untuk fokus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Tapi tidak akan ngoyo dan muluk-muluk. Yang penting proses akan tetap saya gerakkan, jadi atau tidak sebagai anggota dewan. Sehingga Jogja agar jangan seperti Betawi. Warga akhirnya tergeser ke pinggir dan yang di kota dikuasai investor,” tuturnya. (riz/ila)

The Candidate