alexametrics

Ada Awan Panas pada Dini Hari

Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas dan lava pijar. Hal itu terlihat berdasarkan pemantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta.

Luncuran Awan Panas Capai 1,9 Km

Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran tadi malam (25/2) pukul 18.42. Awan panas guguan tercatat di seismogram dengan amplitudo 51 mm dan durasi 175 detik. Tinggi kolom tidak teramati karena puncak berkabut.

Empat Kali Terjadi Guguran Lava Pijar

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kembali melaporkan terjadinya guguran lava pijar di Gunung Merapi. Guguran lava itu teramati dalam pemantauan pada Kamis (18/2) mulai pukul 00.00 hingga 06.00.

Merapi Alami Sebelas Kali Guguran

Gunung Merapi mengalami sebelas kali guguran lava pijar. Kejadian itu terjadi kemarin pada (14/2) pukul 00.00 hingga 06.00. Jarak luncur maksimum guguran lava pijar itu tercatat mencapai 800 meter ke arah barat daya.

Kubah Lava Merapi Terus Tumbuh

Aktivitas di dalam Gunung Merapi memang masih terus terjadi. Namun belakangan volume kubah lava baru pada gunung api itu mengalami penurunan signifikan setelah terjadi rentetan erupsi material vulkanik akhir Januari lalu.

Merapi Muntahkan 11 Awan Panas Dalam 6 Jam

Awan panas ketujuh muncul 21.40 dengan jarak luncur 1,2 kilometer. Durasi luncuran awan panas mencapai 128 detik. Selang 5 menit, tepatnya 21.45 muncul awan panas dengan jarak luncur 1,3 kilometer. Durasi luncuran mencapai 142 detik.

Empat Kali Awan Panas dalam 12 Jam

Gunung Merapi terus mengeluarkan material. Dalam pengamatan yang dilakukan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Kamis (21/1), terpantau Merapi mengeluarkan empat kali awan panas.

Awan Panas Merapi Meluncur 1,8 Kilometer Arah Barat Daya

BPPTKG juga mencatat adanya aktivitas guguran material. Tercatat setidaknya terjadi 30 kali guguran lava pijar. Seluruhnya terjadi dalam kurun waktu 00.00 hingga 06.00. Sementara untuk jarak luncur antara 300 meter hingga 900 meter arah barat daya.

Radius Bahaya Tetap 5 Kilometer

Gunung Merapi terus menunjukkan peningkatan aktivitas vulkaniknya. Di antaranya ditandai dengan keluarnya guguran lava pijar dari puncak gunung.

Suara Gemuruh Terdengar sampai Turi

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan bahwa suara gemuruh Gunung Merapi tak hanya terdengar dari pos pengamatan. Suara gemuruh tersebut juga sampai ke daerah Wonokerto, Turi, Sleman.

Rekahan di Puncak Merapi Semakin Panjang

Gunung Merapi terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Menurut Balai Penyelidikan dan Penelitian Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta, rekahan di puncak gunung api di perbatasan Jateng-DIJ ini kian panjang.

Wisatawan ke Kaliurang Turun hingga 80 Persen

Naiknya status Gunung Merapi menjadi level III atau siaga berdampak pada turunnya wisatawan di lereng Merapi. Meskipun tempat wisata itu berada di luar jarak bahaya yang telah ditentukan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta.

Aktivitas Vulkanik Meningkat Dibanding Minggu Lalu

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi dalam sepekan. Mulai dari periode 20 hingga 26 November. Salah satunya yang sempat menjadi perhatian adalah guguran 22 November.

Merapi Keluarkan Asap Putih Sepanjang Hari

Asap tebal berwarna putih dari puncak Gunung Merapi membumbung hampir sepanjang hari ini (27/11). Tak hanya satu, sempat pula terlihat dua asap putih dari kawasan puncak. Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta fenomena ini adalah asap sulfatara.

Karena Ada Pergerakan Gas ke Permukaan

Gunung Merapi terus menunjukkan peningkatan aktivitas. Kemarin (26/11) pagi gunung yang ada di perbatasan DIJ dan Jawa Tengah itu mengeluarkan kepulan asap berwarna putih. Ketinggian asap mencapai 250 meter dengan intensitas cukup tebal.

Pantauan Udara, BPPTKG Temukan Guguran Arah Barat dan Barat Laut

BPPTKG bersama BPBD DIJ dan Diskominfo DIJ melakukan pantauan udara kondisi puncak Gunung Merapi. Menggunakan helikopter milik BNPB, pemantauan menyasar radius terdekat dari puncak. Mulai dari Kabupaten Sleman, Klaten, Boyolali dan Kabupaten Magelang.

BPPTKG Pasang Trap Camera untuk Memastikan Jenis Satwa Pemilik Jejak

Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Irwan Yuniatmoko memastikan jejak satwa liar yang ditemukan di Dusun Ngancar, Glagaharjo Cangkringan bukanlah macan tutul. Hasil identifikasi sementara, ciri tapak mengarah pada jejak kaki anjing kampung.

Terjadi Guguran Lava Tahun 1954

Sementara itu aktivitas kegempaan di Gunung Merapi masih cukup tinggi. Kegempaan dangkal yang dominan terjadi pada aktivitas kali ini, mengakibatkan ketidakstabilan material lama yang ada di puncak gunung api teraktif di dunia itu.

Pasang Lampu di Jalur Evakuasi

Perbaikan jalur evakuasi di lereng Gunung Merapi terus dilakukan. Termasuk dengan memasang puluhan lampu penerangan jalan. Tidak hanya dipasang di lokasi rekomendasi BPPTKG, lampu penerangan juga dipasang di lokasi lainnya.

Suara Gemuruh Gunung Merapi, Imbas Aktivitas Magma

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida angkat bicara terkait gemuruh di wilayah puncak Gunung Merapi. Fenomena ini adalah tekanan dari dalam tubuh gunung. Berupa magma yang terdorong menuju puncak Gunung Merapi.

TNGM Khawatirkan Keselamatan Perumput

Pihak Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) masih menemukan peternak yang mencari rumput di wilayah atas. Yakni di dalam radius 5 kilometer yang ditetapkan Balai Penyeledikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) sebagai daerah rawan bahaya Merapi.

BPPTKG: Pergerakan Magma sudah Mendekati Permukaan Kawah Merapi

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta melaporkan sejumlah aktivitas terbaru Gunung Merapi yang kini berstatus siaga atau level III. BPPTKG mencermati posisi magma salah satunya dari pusat kegempaan atau hiposenter yang terjadi.