Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dirut PSIM Jogja Yuliana Tasno Soroti Kiprah Perempuan di Industri Sepak Bola: Tak Mudah dan Harus Siap Hadapi Tekanan Besar

Fahmi Fahriza • Kamis, 26 Maret 2026 | 20:03 WIB

 

Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno   
Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno  
JOGJA - Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno mengakui, perempuan yang berkarier di industri sepak bola Indonesia masih menghadapi tantangan tidak ringan. Terutama bagi mereka yang belum memiliki pengalaman sebelumnya.

Menurutnya, lingkungan sepak bola yang selama ini didominasi oleh mayoritas laki-laki membuat banyak perempuan akan mengalami shock di fase awal adaptasi.

"Kalau perempuan yang belum punya pengalaman, pasti kaget. Terutama untuk klub sepak bola yang punya basis suporter besar. Itu nggak mudah, bahkan sulit banget," ujarnya, Kamis (26/3/2026).

Perempuan yang kerap disapa Ci Liana itu menjelaskan, besarnya ekspektasi publik menjadi salah satu tekanan utama yang harus dihadapi. Klub dengan basis suporter yang besar seperti PSIM, dituntut untuk mampu menampung berbagai aspirasi sekaligus memenuhi harapan banyak pihak dalam waktu bersamaan.

"Kalau boleh jujur, challenge-nya itu besar. Karena kita harus menampung aspirasi dan harapan dari banyak sekali orang," lanjutnya.

Meski demikian, Liana melihat ada sisi lain yang justru dapat menjadi kekuatan bagi perempuan di industri ini. Ia menilai kehadiran perempuan di lingkungan yang didominasi laki-laki seringkali mendapat perlakuan yang lebih protektif dan penuh penghormatan.

"Ketika perempuan masuk ke lingkungan yang mayoritas laki-laki, mereka itu secara otomatis ingin melindungi. Itu sudah pasti. Kita juga sering mendapat rasa hormat yang lebih," jelasnya.

Namun ia menekankan kondisi itu harus disikapi dengan bijak. Perempuan, menurutnya, perlu memiliki kecerdasan dalam membaca situasi dan memanfaatkan momentum tanpa kehilangan profesionalitas.

"Namun tetap kita harus pintar dan bijak untuk melihat dan mengambil momen itu," katanya.

Lebih jauh Liana juga menilai dinamika persaingan di industri sepak bola cenderung berbeda ketika dipimpin oleh perempuan. Ia berpendapat, potensi konflik atau rivalitas personal bisa diminimalisasi.

 "Laki-laki itu kalau bertemu laki-laki ada rasa ingin bersaing. Tapi kalau melihat perempuan, mereka mau bersaing apa? Saya juga tidak berpolitik, saya dari swasta dan memang murni ingin membangun sepak bola Jogja," tegasnya.

Ia menambahkan, fokus utamanya bersama PSIM adalah menghadirkan kebanggaan bagi Kota Jogja dan DIJ melalui prestasi sepak bola, tanpa kepentingan lain di luar itu.

Dalam pandangannya, keberhasilan tidak hanya diukur dari prestasi di lapangan, tetapi juga dari nilai yang bisa dibagikan kepada masyarakat luas.

"Kalau ditanya rahasia, jujur saja, integritas. Ketulusan dalam bekerja dan melakukan sesuatu dengan benar, itu pasti membuka jalan," paparnya. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Direktur Utama #PSIM #Direktur Utama PSIM #sepak bola indonesia #Laskar Mataram #Sepak Bola #Yuliana Tasno #Direktur Utama PSIM Jogja Liana Tasno #PSIM Jogja