RADAR JOGJA - Harapan Irak untuk lolos ke Piala Dunia terpengaruh oleh perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel karena para pemain tidak dapat memperoleh visa untuk turnamen playoff di Meksiko.
Tak sekedar itu saja, tim pelatih Irak juga terjebak di Uni Emirat Arab.
"Karena penutupan wilayah udara, pelatih kepala kami, Graham Arnold, tidak dapat meninggalkan Uni Emirat Arab," kata federasi sepak bola Irak dalam sebuah pernyataan di Instagram.
"Selain itu, beberapa kedutaan tetap tutup saat ini, mencegah beberapa pemain profesional, staf teknis dan medis untuk mendapatkan visa masuk ke Meksiko," lanjutnya.
Irak dijadwalkan bermain melawan Bolivia atau Suriname di Monterrey, Meksiko pada awal April untuk memperebutkan salah satu dari dua tempat kualifikasi terakhir untuk Piala Dunia di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Federasi mengatakan pihaknya 'terus berkomunikasi dengan FIFA mengenai pengaturan partisipasi tim nasional kami' dalam pertandingan tersebut.
Dikatakan bahwa Konfederasi Sepak Bola Asia juga sepenuhnya menyadari setiap perkembangan mengenai situasi tim.
Irak berupaya untuk tampil untuk kedua kalinya di putaran final Piala Dunia dan yang pertama sejak 1986.
Jika Irak gagal lolos melalui babak playoff, mereka dapat mengambil jalur lain jika Iran tidak dapat berpartisipasi dalam turnamen karena serangan AS dan Israel terhadap negara tersebut.
"Kita tidak bisa diharapkan untuk menantikan Piala Dunia dengan penuh harapan," kata pejabat sepak bola tertinggi Iran, Mehdi Taj.
Jika Iran menarik diri, Irak atau Uni Emirat Arab kemungkinan akan menjadi pengganti sebagai tim Asia peringkat kesembilan dan kesepuluh dalam kualifikasi.
Namun, peraturan hukum FIFA tidak jelas dan tampaknya memberi presiden FIFA Gianni Infantino wewenang luas untuk membentuk keputusan apa pun.
Harapan paling pasti Irak untuk lolos tetaplah memenangkan babak playoff awal bulan depan.
Editor : Satria Putra Sejati