SLEMAN - Sleman City Hall (SCH) telah menjadi salah satu pusat perbelanjaan jujukan warga Bumi Sembada. Salah satu sosok di balik keberhasilan mal yang terletak di Tridadi, Kapanewon Sleman ini adalah Sebastianus Jony Yudyantara. Pria yang akrab disapa Jony ini merupakan General Manager dari SCH.
Jony bercerita, sama sekali tidak pernah berpikir bisa sampai di posisi ini. Baginya hidup hanya perlu dijalani saja secara mengalir. Sementara jabatan ini adalah bentuk kebaikan Tuhan dan orang-orang di sekitarnya. Pria kelahiran 1985 ini bercerita bahkan sempat menolak tawaran posisi oleh ini hingga tiga kali.
Baca Juga: Jalan Masuk Diblokir Ahli Waris, Warga Perumahan Citra Rejodani Terdampak, Pengembang Tak Lagi Punya Anggaran untuk Beli Tanah
"Setelah ketiga kali akhirnya mau. Saya sampaikan bahwa Bapak Soekeno selalu owner tahu kelebihan dan kekurangan saya," sebutnya saat ditemui di SCH Kamis (23/10).
Penolakan itu dia nilai logis karena prinsip hidupnya yang tidak mau ngoyo dalam mencapai posisi tentu. Termasuk mempertimbangkan life balance. Dia menilai, posisi GM memiliki tanggung jawab yang besar. Tidak sekadar mengoordinasikan, tapi juga harus mampu membawa ekosistem yang baik. Beban yang dia nilai berat.
Baca Juga: Satpol PP Kota Jogja Sita 572 Batang Rokok Ilegal, Peredaran Mulai Gunakan Modus Jaringan Relasi
Penilaiannya itu terbukti. Selama dua tahun jadi salah satu pucuk pimpinan mal kebanggan Sleman ini, tugasnya sama sekali tidak mudah. Lantaran banyak visi dan target yang mesti dicapai. "Ternyata dijalani susah sekali. Perusahaan ini agak beda dengan yang lain. Semua serba harus cepat," katanya.
Meski demikian, Jony menyebut banyak ilmu yang dia pelajari. Baik dalam hal pengelolaan sumber daya manusia maupun pengetahuan teknis. Untuk itu, dia ingin SCH bisa terus berkembang dan menambah asetnya.
Baca Juga: Blazer Of Glory Ingin Memotivasi Orang agar Tak Malu untuk Menujukkan Bakatnya kepada Khalayak Umum
Strategi utamanya adalah melakukan upgrade tenant di dalam mal. Salah satunya adalah menghadirkan English 1, lembaga kursus Bahasa Inggris berstandar Internasional. Selain itu, mengembangkan fasilitas mal, seperti ballroom maupun gedung perkantoran. Pengembangan semacam ini dinilai penting mengingat kompetisi dalam sektor ini.
"Saya merasa bersyukur masih dipercaya hingga kini di tengah banyaknya kekurangan saya," tambahnya.
Baca Juga: Atasi Banjir Semarang, Pemprov Jateng Kerahkan 8 Pompa, Sedot 1.900 Liter per Detik Genangan
Pria yang tinggal di Kapanewon Pakem ini mengaku, tidak memiliki background pengelolaan pusat perbelanjaan. Sebab dia adalah lulusan jurusan sastra Inggris dari Universitas Sanata Dharma. Namun selama kuliah, dia belajar untuk mengambangkan ketelitian. "Biasaya kalau ada yang bikin surat sama saya sudah saya coret-coret. Bagi saya surat keluar atau surat perjanjian itu penting dan harus benar formatnya," katanya.
Lulusan SMA Kolese De Britto ini bercerita banting setir bidangnya ini dipengaruhi keluarga yang memang rata-rata bekerja di projek. Sebelumnya, dia juga sempat terjun menjadi staf lapangan building service di Jogja City Mall (JCM) untuk mengurusi sekuriti, cleaning service, dan parkir.
Baca Juga: Atasi Banjir Semarang, Pemprov Jateng Kerahkan 8 Pompa, Sedot 1.900 Liter per Detik Genangan
"Akhirnya bisa naik jadi SPV, senior SPV, manager, sampai asisten GM cukup lama di JCM," tambahnya.
Bagi Jony, hal terpenting untuk bisa memiliki karier yang baik adalah bermodalkan kejujuran. Agar nantinya bisa mendapatkan kepercayaan dari pimpinan. "Kalau masih kuliah, bangun karakter diri dulu. Saya buktikan meski saya anak sastra, tapi bisa komunikasi dengan berbagai lulusan teknis," pesannya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita