Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Mbah Wakiran Pembuat Kandang Ayam dengan Sepeda Roda Tiga, Tak Pernah Putus Asa meskipun Lumpuh

Anom Bagaskoro • Rabu, 1 Januari 2025 | 13:30 WIB

 

 

   KETERBATASAN: Mbah Wakiran merangkai kandang ayam di depan rumahnya.
  KETERBATASAN: Mbah Wakiran merangkai kandang ayam di depan rumahnya.

 

 

KULON PROGO - Keterbatasan bukanlah halangan, itu ungkapan Mbah Wakiran (54) seorang disabilitas yang cukup inspiratif. Keterbatasn yang dimilikinya tak membuat putus asa ataupun berpangku tangan. Justru keterbatasannya disimpan sedalam-dalamnya untuk lebih meninjolkan keterampilannya dalam membuat kerajinan berbahan bambu.

 

 

Pertemuan awal Radar Jogja dengan sosok Mbah Wakiran terjadi sewaktu pencoblosan Pilkada 2024 27 Desember lalu. Wakiran saat itu berjalan ngesot menuju TPS untuk memberikan hak pilihnya. Tertarik dengan kondisi itu, Radar Jogja sempat berbincang lama dan akhirnya memutuskan berkunjung di waktu lain ke kediamannya di Padukuhan Taruban Wetan, Kalurahan Tuksono, Kapanewon Sentolo.

 Baca Juga: Lini Belakang PSIM Jogja Dihantam Badai Cedera, Seto Nurdiyantara Buka Opsi Kembali Datangkan Pemain Baru

 

Di waktu yang berbeda, Radar Jogja mendatangi kediaman Mbah Wakiran saat dirinya tengah sibuk memproduksi kandang ayam. Mbah Wakiran yang memiliki keterbatasan lumpuh di sebagian anggota tubuhnya itu, menyambut dengan hangat. Sambil memecah bilah bambu dan merautnya, mbah Wakiran menceritakan kondisinya.

 

 

"Sak tekane sing penting halal, yo dodol pitik doro, nak nglangut nggih ndamel kandang," ucap Mbah Wakiran, saat ditemui Radar Jogja, Senin (30/12).

 

 Baca Juga: Aliansi Jogja Memanggil Menolak PPN 12 Persen di  Jalan Malioboro, Khawatir Bakal Menyengsarakan Rakyat

Pria yang tak fasih berbahas jawa ini menyampaikan, sejak anak-anak dirinya mengalami lumpuh. Bahkan bagian tangan dan kakinya bengkong. Namun, hal itu tak membuat dirinya patah arang, dan memutuskan untuk berhenti hidup. Justru keterbatasan yang dimilikinya ia pendam dalam-dalam, hingga membuat dirinya hanya terlihat keterampilan saja yang menonjol.

 

 

   KETERBATASAN: Mbah Wakiran merangkai kandang ayam di depan rumahnya.
  KETERBATASAN: Mbah Wakiran merangkai kandang ayam di depan rumahnya.

Sejak remaja, Mbah Wakiran sudah akrab dengan dunia unggas. Tahun 80 an menjadi saksi awal mula merintis usaha jual beli unggas di Pasar Burung Gawok. Dengan modal seadanya dirinya mampu bertahan hingga kini usahanya terus berjalan.

 

"Timbangane nglangut skeo pasar, yo gawe kandang nggo tambah-tambah," ucapnya.

 

 

Kendati telah mengupayakan segala usahanya, Mbah Wakiran tak banyak bisa mendaptkan penghasilan tetap. Namun, dirinya enggan berpangku tangan ataupun merepotkan orang lain. Bahkan dirinya memiliki prinsip untuk mmeberdayakan dirinya hingga Sang Kholik memanggilnya.

 

 

Wakiran terkadang bingung denganperilaku sosial di zaman sekarang. Kebingungannya terjadi akibat banyaknya pengamen yang sering ia temui saat berpegian menjual unggas. Dengan usia muda tanpa keterbatasan fisik sepertinya mereka lebih memilih mengamen.

Padahal dengan kondisi mereka mampu memperoleh pekerjaan. Ataupun mereka dapat membuat usaha kecil kecilan.

 

 

"Wong waras kok yo ora glidhik wae, mbub pye carane mbudidayane kudune iso ngluwihi aku," ujarnya.

 

 

Wakiran menyampaikan, usahanya dari berjualan hingga membuat kerajinan menjadi kwbanggan tersendiri. Lantaran, dirinya lebih bangga berusaha dengan tangganya daripada meminta-minta. (gas)

Editor : Heru Pratomo
#Kulon Progo #inspiratif #kandang ayam #putus asa #Disabilitas #keterbatasan #lumpuh #sepeda roda 3