RADAR JOGJA - Pada tahun 2023 Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) menyambut kedatangan dua tamu asal Arab Saudi.
Astronot asal Arab Saudi tersebut bernama, Rayyanah Barnawi, Rayyanah berangkat dengan pesawat sewaan milik perusahaan transportasi luar angkasa swasta AS, SpaceX.
Astronot dari Saudi tersebut tidak sendiri, dia ditemani 2 astronot lainnya yang juga ikut bersama ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Namun apakah anda mengetahui jauh sebelum Arab Saudi, ternyata Indonesia juga mempunyai antariksawan pertama wanita, yakni Prof dr Pratiwi Pudjilestari Sudarmono.
Pengembaraan antariksa ini rupanya sudah dilakukan sejak 1987.
Tidak hanya di Indonesia saja, bahkan nama Dokter Pratiwi melambung di Asia.
Dia merupakan astronot pertama se-Asia pada waktu itu.
Di era 1980 Nama Pratiwi sangat populer sebab terpilih menjadi antariksawan pertama Indonesia.
Dia pada waktu itu berangkat untuk mengembangkan proyek DNA dan eksperimen ilmiah lainnya.
Indonesia sangat bangga atas prestasi yang di raih oleh Dokter Pratiwi, dan tentu saja bukan tanpa alasan sebab pada waktu itu ilmuwan didominasi dari Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Dijadwalkan Terbang Bersama NASA Pada Tahun 1986
Semula Dokter Pratiwi di jadwalkan berangkat bersama dengan astronot Inggris pada Juni 1986 untuk mengawal peluncuran satelit Palapa B3 dan mengerjakan eksperimen ilmiah.
Namun rencana tersebut berkata lain, dia batal terbang, karena sebulan sebelum keberangkatan, tepatnya pada tanggal 28 Januari 1986, pesawat Ulang Alik Challenger dengan misi STS-51-L meledak di udara.
Tragedi Antariksa Challenger
Pada tanggal 28 Januari 1986 pesawat Ulang Alik Challengger milik Amerika Serikat meledak dengan membawa misi STS-51-L.
Insiden ini terjadi hanya 73 detik setelah diluncurkan pada ketinggian 15 sampai dengan 16 kilometer di udara.
Tujuh astronot meninggal dunia pada saat itu.
Musibah itu menyurutkan program ulang-alik Amerika selama hampir tiga tahun.
Selain itu membuat program antarikasawan asing yang dijadwalkan ikut pernebangan ulang-alik terlantar, termasuk program yang membersamai Dokter Pratiwi.
Profil Pratiwi Sudarmono
Pratiwi lahir di Bandung 31 Juli 1952 di Bandung. Sejak kecil Pratiwi sudah memiliki keinginan untuk bergabung bersama Index Space experiment (INSPEX).
Aelepas dari bangku SMA, Pratiwi meneruskan pendidikan kedokteran pada tahun 1977 dan berhasil mendapatkan gelar Master dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kemudian pada tahun 1984, Pratiwi memperoleh gelar Ph.D dari Universitas Osaka, Jepang lewat penelitian bidang biologi Molekuler.
Di tahun 1985, Pratiwi berangkat ke Johnson Space Center, AS untuk menjalani dan mendapatkan sertifikat Astronot Spesialis Muatan.
Pada tahun yang sama, tepatnya pada bulan Oktober, Pratiwi berhasil terpilih dari 200 lebih pelamar yang ikut mendaftar untuk mewakili Indonesia dalam misi penerbangan Palapa-B-3 STS-61H National Aeronauticts and Space Administration (NASA) sebagai Spesialis Muatan.
Dalam misi penerbangan tersebut, Pratiwi hendak melakukan penelitian terkait daya tahan tubuh manusia dan kemungkinan untuk hidup berkoloni di luar angkasa.
Karena gagal berangkat, Dokter Pratiwi tetap mengukir prestasi. Beliau menjadi peneliti di NASA dari tahun 1985 sampai tahun 1987.
Tapi dikarenakan krisis moneter melanda Indonesia, membuat kesempatan Dokter kelahiran Bandung ini semakin batal terlaksana.
Sebab tidak ada lagi dana untuk membiayai program bagi astronot Indonesia.
Dokter Pratiwi kemudian mengabdikan dirinya dengan melakukan berbagai penelitian sekaligus menjadi staf pengajar di kampus (UI) .
Pada tahun 2008, Dokter Pratiwi diangkat sebagai Guru besar atau Profesor Kehormatan Ilmu Mikrobiologi Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia dengan minat utama yakni mikrobiologi klinis dan mengembangkan penelitian di bidang mikrobiologi klinis.
Di tahun 2019, Dokter Pratiwi mendapatkan penghargaan recognition for Inspiring Women in STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). (Bayu Prambudi Susilo)
Editor : Meitika Candra Lantiva