-
Sastrawan Joko Pinurbo dan puisi-puisi karyanya.
RADAR JOGJA - Nama Joko Pinurbo sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta sastra.
Sastrawan Joko Pinurbo tutup usia di usianya yang menginjak 62 tahun, Sabtu (27/4/2024) pagi di kediamannya, di kawasan Yogyakarta.
Sebelum tutup usia, penyair kondang yang akrab disapa Jokpin itu baru saja menerima Achmad Bakrie Award 2023 atas puisi cemerlangnya.
Setiap baitnya mampu menciptakan corak dan warna tersendiri dalam perkembangan sastra Indonesia.
Penghargaan Achmad Bakrie sudah dianugerahkan pada tahun 2023.
Ajang bergengsi yang kini memasuki tahun ke-19 ini memberikan penghargaan kepada empat sosok berprestasi di bidangnya.
Keempat peraih penghargaan tersebut adalah Fachry Ali dari departemen pemikiran sosial, Joko Pinurbo dari departemen sastra, Andrijono dari departemen kedokteran dan Carina Joe dari departemen sains.
Aninditha Anestya Bakrie selaku Ketua Penyelenggara Penghargaan Achmad Bakrie XIX saat itu mengatakan, bahwa penerima penghargaan tersebut dipilih melalui proses seleksi yang ketat oleh tim juri.
Juri mencakup tim dari Freedom Institute, perwakilan Grup Bakrie, dan pakar atau konsultan independen.
“Mereka yang terpilih tahun ini adalah orang Indonesia yang selama ini mengabdikan hidupnya untuk berkarya yang bermanfaat bagi orang banyak. Ini sesuai amanah H. Achmad Bakrie tentang keIndonesiaan dan kemanfaatan,” ungkapnya, dalam keterangan rilisnya beberapa waktu lalu.
Profil Joko Pinurbo (Jokpin)
Pria yang akrab disapa Jokpin ini lahir di Sukabumi pada 11 Mei 1962.
Dia memulai karir menulisnya pada tahun 1983 hingga sekarang.
Kecintaannya pada menulis puisi telah ia geluti sejak SMA.
Mengejar cita-citanya, Jokpin kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Yogyakarta yang kini bernama Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Joko Pinurbo sendiri dikenal dengan gaya puitisnya yang memadukan romansa, ironi, dan humor dalam setiap baitnya.
Ia juga kerap dijuluki penyair romantis.
Setiap tulisannya berdasarkan peristiwa dan benda sehari-hari, dengan menggunakan bahasa yang lancar namun tajam.
Namanya mulai dikenal masyarakat setelah munculnya kumpulan puisi Celana pada tahun 1999.
Selain itu, Jokpin juga menulis karya lain, seperti Di Bawah Kibaran Sarung (Magelang, 2001), Pacarkecilku (Magelang, 2002), Telepon Genggam (Jakarta, 2003) Pacar Senja: Seratus Puisi Pilihan (Jakarta, 2005), Kepada Cium (Jakarta, 2007).
Tahilalat (Yogyakarta, 2012), Baju Bulan: Seuntai Puisi Pilihan (Jakarta, 2013), Bulu Matamu: Padang Ilalang (2014). Surat Kopi (2014), Srimenanti (April 2019), Salah Piknik (2021), dan yang paling baru Tak Ada Asu di Antara Kita: Kumpulan Cerpen (2023).
Atas prestasi sastranya, Joko Pinurbo telah menerima beberapa penghargaan, mulai dari dengan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001), Sih Award (2001), Hadiah Sastra Lontar (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001, 2012).
Sebelumya berbagai penghargaan besar juga di raihnya, seperti: Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2002, 2014), Kusala Sastra Khatulistiwa (2005, 2015), dan South East Asian (SEA) Write Award (2014).