RADAR JOGJA – Daily Noon Store berdiri sejak Mei 2017 silam. Didirikan oleh Lourdesta Rosari Listriana. Daily Noon Store adalah wadah bagi crafter lokal untuk meningkatkan eksistensi produk lokal.

Desta, begitu akrab disapa, saat ini aktif bekerja sebagai konsultan bidang lingkungan sektor persampahan 3R (reduce, reuse, recycle), mengaku tidak mudah bisa mendirikan Daily Noon Store.

Semula, Desta hanya berjualan produk pakaian via media sosial. Selain itu, ia juga aktif mengikuti berbagai event untuk menjual produknya sejak 2015-2017. Dari bazar ke bazar, produk milik Desta mulai eksis dan dikenal banyak orang. Karena banyak costumer yang menanyakan lokasi toko, Desta mulai memberanikan diri mendirikan offline store.

Menurut Desta, Daily Noon diusung dari dua brand. Yaitu Daily wardrobe yang diproduksi oleh adiknya bernama Rossa. Dan kata Noon berasal dari brand milik Desta yakni noonlurik store dengan tema etnic dailywear. “Konsepnya adalah concept store dengan produk-produk hand made karya crafter lokal,” jelas Desta kepada Radar Jogja.

Pemilihan produk lokal, kata Desta, bertujuan agar crafter lokal semakin dikenal oleh masyarakat. Khususnya generasi muda yang lebih bisa mengharhai karya-karya crafter lokal.

Desta mengajak crafter lokal yang seauai dengan konsep Daily Noon, untuk bergabung. Dengan cara produk akan dipromosikan dan difasilitasi display menarik di store. “Yang terkesan hommy, jadi costumer nyaman mengunjungi kami,” beber Desta.

Meski demikian, di awal berdiri masih banyak yang belum mempercayakan produknya kepada Desta. Terhitung hanya sepulih brand yang bersedia bergabung sengan Daily Noon. Dengan tim yang semula hanya empat orang, Desta mencoba melayani pelanggan online dan offline.

Untuk memperkenalkan toko miliknya, Desta juga berupaya untuk mengikuti dan membuat event. “Dan saat ini sudah ada 60 tenant yang percaya dan bergabung. Karya anak bangsa ternyata saat ini sudah mendapat tempat rumah sendiri,” lanjutnya.

Berjalan 4 tahun, Desta mengaku banyak perasaan suka dalam mengembangkan tokonya. Terlebih, saat ini Daily Noon sudah semakin dikenal dan identik dengan handmade. Yang bisa eksis dengan inovasi yang terus mengikuti tren. Serta generasi muda yang sekarang bisa semakin menghargai produk dari negeri sendiri.

“Dan produk handmade di Daily Noon tentunya tidak diproduksi masal, sehingga setiap produk memiliki ciri khas masing-masing,” ungkapnya.
Meski terpaksa menutup store di awal pandemi selama 2 bulan, kini Desta mulai mencoba bangkit kembali. Mencoba menggenjot promisi dan penjualan secara online. Serta, mulai membuka kembali toko degan menyesuaikan jam operasional saat pandemi. “Mulai menambah produk yang support era new normal. Beberapa tenant baru juga bergabung,” tutur Desta.

Desta berharap, ke depan Daily Noon Store bisa mengajak lebih banyak crafter maupun UMKM lokal sebagai tenant. Untuk bisa berkembang bersama, sehingga produk lokal semakin dikenal, bisa bersaing dengan produk masal dan memiliki tempat dirumahnya sendiri. (eno/bah)

Sosok & Sisi Lain