RADAR JOGJA - Prevalensi stunting di Kapanewon Mlati, Sleman masih melebihi rata-rata tingkat kabupaten. Merujuk data Dinas Kesehatan Sleman, pada 2022 angkanya mencapai 7,24 persen dari angka rata-rata kabupaten yakni 6,88 persen.
Nutrisionis Puskesmas Mlati II Miftahul Jannah mengungkapkan, setelah dikaji, 74 persen balita stunting disebabkan faktor satu keluarganya merokok. Terlebih merokok langsung di dekat balita.
Stunting juga berpotensi terjadi di keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi dan sulit mengendalikan untuk tidak merokok. Sebab, ada yang memilih mempertahankan kebiasaan merokok dibandingkan menggunakan uangnya untuk membeli makanan bergizi.
Hal ini membuat perkembangan balita tumbuh tidak optimal. Baik kongnitifnya maupun pertumbuhan fisiknya. Jannah berharap, kesadaran pola asuh ini tumbuh di masyarakat. Sebab, stunting bisa dicegah. Sehingga balita tidak berisiko kehilangan kesempatan 80 persen dalam pertumbuhan otak. "Jangan sampai itu terjadi dengan anak-anak saat ini," tegasnya.
Faktor risiko lainnya karena makanan pendamping air susu ibu (MPASI) yang diberikan kurang tepat. Padahal, pemberian MPASI yang tepat harus dilakukan dengan komposisi protein hewani lebih tinggi dibandingkan protein nabati dari kacang-kacangan. Kemudian dari segi tekstur, harus diberikan secara berkala dan menunya harus variatif.
Meski demikian, upaya menekan angka stunting terus digerakkan di puskesmas. Seperti menyebarkan informasi dan edukasi kepada ibu balita, kader kesehatan, dan masyarakat umum. Supaya setiap keluarga punya awareness, kesadaran tentang pentingnya upaya pencegahan stunting.
"Edukasi ini diwujudkan dalam bentuk kelas atau kelompok belajar cegah stunting yang kemudian kader sebagai pendamping keluarga balita. Fokus usia di bawah dua tahun," kata Jannah.
Diharapkan, implementasinya ditidaklanjuti di tingkat keluarga dengan baik. Sehingga anak di bawah dua tahun tidak terjadi gagal tumbuh sampai stunting.
Sementara itu, Sub Koordinator Gizi Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sleman Samsu Eko menyebutkan, angka stunting di Kabupaten Sleman terus mengalami penurunan sejak 2017 hingga 2022.
Pada 2022 dari terdapat 3.499 balita mengalami stunting dari total 50.877 balita di Kabupaten Sleman. "Kalau yang tertinggi di Minggir angkanya 13,48 persen, dan terendah di Kapanewon Sleman ada 4,02 persen. 2023 ini di dorong lagi harapannya stunting menurun," tandasnya. (mel/eno) Editor : Editor Content