Budiharto menyebut pertumbuhan ekonomi yang lambat dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global. Hal ini memicu perlambatan ekonomi serta pengetatan kebijakan moneter dan peningkatan suku bunga. Meskipun daya beli masyarakat diperkirakan masih cukup kuat untuk menahan perlambatan yang lebih dalam.
"Kami memperkirakan inflasi DIJ pada tahun 2023 lebih melandai dibandingkan dengan capaian 2022. Hingga akhir tahun 2023 inflasi DIJ diperkirakan mencapai 3,1-3,9 persen (yoy) dan berada dalam rentang sasaran inflasi 3±1 persen (yoy)," jelasnya.
Faktor pendorong inflasi DIJ tahun 2023 adalah berlanjutnya perbaikan daya beli masyarakat, perbaikan serapan pangan, serta masih tingginya harga bahan baku produksi.
Sementara itu, faktor penahan inflasi DIJ tahun 2023 dipengaruhi oleh dampak pengetatan kebijakan moneter, pengendalian inflasi pangan melalui sinergi TPID dan GNPIP, dan faktor cuaca 2023 yang lebih kondusif. "Sinergi dan Inovasi menjadi kata kunci dalam menjaga ketahanan dan kebangkitan ekonomi pada pasca pandemi," ujarnya.
Selain itu, Budiharto mengatakan pembangunan infrastruktur dan transisi ke era digitalisasi perlu dioptimalkan. Tujuannya untuk mendorong sumber pertumbuhan ekonomi baru. Pembangunan infrastruktur dalam jangka pendek telah mendorong pertumbuhan lapangan usaha konstruksi.
"Sedangkan jangka menengah dan panjang, pasca berakhirnya fase konstruksi maka perlu disiapkan motor baru sebagai penopang ekonomi DIJ," jelasnya.
Ada pun sektor pariwisata juga perlu dikembangkan kualitasnya untuk mendongkrak perekonomian. Termasuk pertanian untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. (lan/bah) Editor : Editor Content