Pemberian nama ini karena Sri Sultan Hamengku Buwono VII memilih untuk menempati istana kecil ini. Hingga akhirnya meninggal pada 30 Desember 1921. Menjadi cerita sejarah, tentang sosok Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang meninggal diluar istana.
"Pendopo Agung Royal Ambarrukmo berdiri sejak 18 sekian, sejarahnya Sultan Hamengku Buwono VII. Turun tahta otomatis harus keluar dari istana keraton. Dia pilih tempatnya di sini untuk beristirahat sambil Sri Sultan Hamengku Buwono VIII naik tahta," jelas Manager Royal Ambarrukmo Hotel Jogjakarta Herman Courbois, Selasa (1/11).
Berdasarkan fakta sejarah, bangunan ini dibangun era Sri Sultan Hamengku Buwono II. Tepatnya medio 1792 dan kini telah berusia 230 tahun. Setelahnya dipugar dan diperluas era kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Herman menuturkan fungsi bangunan pada awalnya untuk menerima tamu. Terutama yang datang dari arah Surakarta. Untuk kemudian beristirahat di kawasan alun-alun atau Pendopo Agung Kedhaton Ambarrukmo. Sebelum akhirnya bertemu Raja di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
"Sudah ada sejak jaman Hamengku Buwono II, dulu tempatnya orang dari Solo mau ketemu raja sebelum masuk keraton sudah kumpul di alun-alun atau pendopo, sekarang masih berdiri alun-alun masih ada, pendopo, dalem agung sama bale kambang," katanya.
Keaslian arsitektur bangunan masih terjaga hingga kini. Termasuk warna cat bangunan sisi luar maupun dalam. Mulai dari pendopo, Ndalem Ageng hingga Bale Kambang.
Pada sisi barat merupakan area keputren. Menjadi tempat untuk para abdi dalem maupun kerabat putri. Sementara sisi timur adalah keputran, yang kini menjadi bangunan hotel Royal Ambarrukmo Jogjakarta.
"Fungsinya, alun-alun untuk masyarakat umum, pendopo untuk resepsi, lalu pringgitan dan ageng dalem untuk VIP atau keluarga, lalu Gadri untuk keluarga dari raja," ujarnya.
Untuk saat ini bangunan utama difungsikan sebagai Museum Ambarrukmo. Berisikan artefak raja-raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Mulai dari Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Adapula beberapa foto kerabat Kasunanan Surakarta. Terlihat dari dipajangnya foto Sri Susuhunan Paku Buwono X. Adapula Gubernur Hindia Belanda pada era pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
"Sekarang jadi museum yang menyajikan beragam foto - foto sejarah. Juga untuk menyimpan gamelan dan koleksi wayang kulit," katanya.
Kedepannya Herman juga akan memfungsikan sebagai lokasi pertemuan seni dan budaya. Terutama dalam upaya melestarikan budaya tradisional Jogjakarta. Mulai dari tarian, tulisan, sastra, gamelan hingga pewayangan gaya Jogjakarta.
Kawasan Pendopo juga berfungsi sebagai lokasi pernikahan. Royal Ambarrukmo Hotel Jogjakarta menyediakan paket pernikahan. Lokasi ini juga terbuka untuk beragam kegiatan, termasuk pameran seni.
"Pendopo memang ini pertama boleh untuk komersial, acara wedding dan pameran dan lain sebagainya. Wedding juga sering di sini," ujarnya. (Dwi) Editor : Editor News