Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman Taupiq Wahyudi menyebut, jembatan lama sengaja tidak dibuang. Hal ini karena permintaan warga setempat. Untuk selanjutnya, akan difungsikan sebagai objek wisata. "Mboten (tidak disempurnakan DPUPKP, Red). Anggaran kami hanya untuk jembatan baru aja," jelasnya kemarin (24/10).
Meski demikian, Taupiq mengaku, memang tidak ada sejarah pasti. Terkait waktu pembangunan Jembatan Merah. Namun jembatan tersebut, pernah diperbaiki pada 1972.
Jembatan baru yang berada di utara jembatan lama, saay ini memiliki panjang 22 meter dan lebar sembilan meter. Dikerjakan dengan APBD senilai Rp 6,3 miliar, dan selesai sesuai target. "Sudah selesai (sesuai target akhir Oktober, Red)," ujarnya.
Taupiq berharap, adanya jembatan yang lebih luas dan representatif, dapat mengurai kemacetan di area Gejayan. Mengingat lokasi tersebut masuk kategori padat lalu lintas.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Sleman Ishadi Zayid ikut mendukung dengan potensi wisata baru yang ada di wilayahnya. Namun, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan. Seperti melihat potensi dari Jembatan Merah. Apakah memang memungkinkan menjadi destinasi wisata sejarah atau tidak. "Bisa dicari cerita sejarahnya," imbaunya.
Kajian tentang objek wisata baru, juga perlu dilakukan. Tidak hanya melibatkan dinas pariwisata, namun juga dinas kebudayaan. Jika fokus wisatanya adalah sejarah. Hal ini dilakukan agar destinasi wisata baru, tidak ramai di awal saja. Sehingga harus dipikirkan jangka panjangnya. "Jangan sampai anget-angetnya orang datang awal tapi setelah itu balik ke dulu. Karena banyak yang sementara, datang selfie terus sepi. Makanya kelayakan, potensi yang ada harus dilihat. Jangan sampai berdiri dan hilang begitu saja," tandasnya. (lan/eno) Editor : Editor Content