Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Biaya Perawatan Cabai Meningkat

Editor Content • Kamis, 13 Oktober 2022 | 18:23 WIB
ANTUSIAS: Calon lurah saat mengikuti acara Pembekalan Calon Lurah dan Deklarasi Damai di Gedung Induk Parasamya Pemkab Bantul kemarin (14/9).(DOKUMENTASI HUMAS PEMKAB BANTUL)
ANTUSIAS: Calon lurah saat mengikuti acara Pembekalan Calon Lurah dan Deklarasi Damai di Gedung Induk Parasamya Pemkab Bantul kemarin (14/9).(DOKUMENTASI HUMAS PEMKAB BANTUL)
 

RADAR JOGJA - Cuaca ekstrem cenderung hujan di Sleman, menyebabkan tanaman cabai petani rentan terserang hama. Hal ini membuat biaya perawatan tanaman membengkak. Karena pemupukan dan insektisida dilakukan lebih intens.

Seperti dirasakan petani cabai Purwabinangun, Pakem, Sleman Awan. Dia mengaku harus merogoh kocek hingga dua kali lipat setiap perawatan untuk tanaman cabai rawit miliknya. Estimasinya, jika cuaca normal, panas dan hujan seimbang, biaya perawatan satu pohon dalam satu periode tanam ditaksir Rp 5 ribu. "Pada cuaca ekstrem ini, biaya perawatan bisa saja membengkak, menjadi Rp 10 ribu per satu pohon," ungkap Awan kepada Radar Jogja kemarin (12/10).

Jika luasan tanam cabai mencapai 1.400 meter persegi dengan 1.500 pohon, rata-rata biaya perawatan dalam satu periode tanam mencapai Rp 15 juta. Biaya membengkak, disebabkan perawatan intens. Paling tidak tiga hari sekali dilakukan penyemprotan insektisida.

Dia mencontohkan tanamannya yang baru berusia tiga bulan. Normalnya, tanaman cabai sudah berbuah. Namun karena diserang tungau, kutu daun, dan thrips tabaci, pertumbuhan tanaman cabai menjadi terganggu. Pucuk daun keriting dan mudah rontok. "Tanaman menjadi sulit berkembang," bebernya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Forum Komunikasi Petani Tirtomartani, Kalasan Janu Riyanto. Dampak cuaca yang tidak menentu ini, tidak hanya menurunkan tingkat produksi cabai. Namun juga bawang merah.

Disebutkan, luasan lahan pertanian cabai di Tirtomartani mencapai 12 hektare (ha). Sementara bawang merah mencapai 13 ha. Terdiri dari 17 kelompok tani. Dan sebagian kecil memasuki masa panen. "Akibat serangan organisme penganggu tanaman (OPT) menyebabkan produksi turun sekitar 20 persen," ucapnya.

Cabai yang mulai berbuah, cenderung diserang patek. Demikian juga tanaman bawang merah yang terserang jamur. Pada akar tanaman rentan busuk. Namun untuk mengantisipasi hama penyakit, dilakukan penyemprotan rutin fungisida dan memperlancar drainase.

Meski cuaca ekstrem, kata Janu, nilai jual cabai di tingkat petani saat ini terbilang normal. Harga cabai rawit original di tingkat petani mencapai Rp 28 ribu per kilogram. Lalu cabai keriting Rp 25 ribu per kilogram. Sementara bawang merah kering konsumsi berkisar Rp 22 ribu di tingkat petani. (mel/eno) Editor : Editor Content
#cabai #Sleman