Dia mencatat kasus TB di Sleman pada tahun 2017 hingga 2019 terus meningkat. Sementara pada 2020 hingga 2021 terjadi penurunan kasus. Akibat terkendalanya upaya penemuan kasus TB lantaran pandemi Covid-19.
Cahya mengatakan kasus TB kebal atau resisten obat (RO) pada tahun 2021 di Kabupaten Sleman ada sebanyak 22 kasus. Menurutnya, kasus TB RO disebabkan oleh pengobatan yang tidak tuntas.
Ini akan beresiko menyebabkan waktu penularan menjadi lebih lama. Tak hanya itu, waktu pengobatan juga akan ditempuh dengan jangka waktu yang lebih panjang. Parahnya, pasien TB RO akan menularkan virus TB RO pula kepada orang lain.
"Itu butuh biaya mahal untuk pengobatan yang kebal obat ini. Maka sebelum dia menjadi TB resisten obat (RO), selama dia masih SO (sensitif obat) ini harus kita temukan," jelasnya saat ditemui di Kantor Kapanewon Ngemplak, Senin (5/9).
Cahya memastikan pasien TB RO tetap bisa diobati. Namun dengan regimen obat tertentu yang dikhususkan dengan kondisi kebal obat.
"Kalau sudah kita temukan, kita obati ya insya Allah nanti sembuh. Itu tidak akan kebal obat," katanya.
Cahya mengatakan masyarakat patut mewaspadai beberapa gejala TB. Diantaranya, batuk berkepanjangan selama dua hingga tiga minggu disertai dahak dan darah. Terjadi pula penurunan berat badan tanpa diet dan berkeringat di malam hari.
Jika menemui tanda-tanda TB tersebut, masyarakat diminta mendatangi puskesmas. Untuk memastikan kondisi kesehatan kepada petugas medis. Sebagai upaya jemput bola, pihaknya bekerja sama dengan Zero TB Jogjakarta untuk melakukan mobile screening TBC.
"Saya harapkan, nanti dari program Zero TB ini kalau masyarakat nanti terdeteksi adanya gangguan TB segera langsung berobat 6 bulan. Setelah selesai nanti akan sembuh, tidak akan menularkan. Dan patuh minum obat karena kalau tidak akan terjadi kebal obat," ujarnya.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Khamidah Yuliati menjabarkan hingga 5 September 2022 ada terduga TB sebanyak 5.742 kasus. Didalamnya ada temuan TB SO sebanyak 941 kasus dengan 20 kasus meninggal dunia. Kasus TB RO juga ditemui sebanyak 23 kasus dengan 4 kasus meninggal dunia.
"Yang diobati sebanyak 853 kasus. Update per 31 Juli, TB SO terbanyak di Kapanewon Depok, dan TB RO terbanyak di Kapanewon Gamping," katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News