Yudi memaparkan idealnya harga perkilogram adalah 3,5 kali harga pakan. Untuk saat ini harga pakan berada di kisaran Rp. 7.200,-. Sementara untuk pakan awal kisaran Rp. 9 ribu. Angka ini masih berpotensi terjadi kenaikan pasca naiknya harga BBM.
"Agar tidak terjadi polemik yang berkelanjutan terus mengenai harga telur. Kami ingin mengedukasi masyarakat agar tahu betul persis bagaimana biaya atau usaha para peternak untuk menghasilkan telur," jelasnya ditemui di Fakultas Peternakan UGM Jogjakarta, Senin (5/9).
Yudi menilai harga telur saat ini cenderung ideal. Dengan perhitungan biaya produksi pakan dan perawatan ayam petelur. Dalam artian para peternak ayam telur tidak merugi.
Untuk harga telur dipengaruhi oleh beberapa hal. Mulai dari pakan, bibit ayam atau day old chicken (DOC) dan penunjang lainnya. Harga ini berpotensi naik dan turun berdasarkan kondisi dinamika pasar.
"Kami para peternak petelur mempunyai perhitungan tersendiri karena kami adalah industri dihilir yang dimana itu sangat dipengaruhi oleh adanya harga pakan, harga DOC dan sebagainya. Perhitungannya 3,5 kali pakan. Artinya 1 kilo telur itu dibuat oleh 3,5 kali pakan," katanya.
Terkait standarisasi harga, Yudi mengakui sudah ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional. Berupa terbitnya batas harga bawah dan harga atas. Dengan tujuan menjadi acuan harga telur di pasaran.
Disatu sisi peternak ayam telur memiliki acuan tersendiri. Penentunya adalah beragam sektor pendukung. Mulai dari harga jagung, harga DOC dan harga pakan.
"Tetapi pada kenyataannya ada 2 parameter yaitu harga pakan dan DOC yang enggak bisa mengikuti penurunan harga telur kami ini. Nah ini menjadi sebuah keprihatinan," ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Yudi meminta pemerintah memperhatikan keluhan para peternak ayam petelur. Sejatinya harga berapapun tidak masalah selama harga baku terjangkau. Sehingga selisih antara modal dan harga jual tak terlampau jauh.
"Teman-teman justru ingin sekali lewat kami menyampaikan kepada pemerintah selaku pelaksana dari regulasi ini bagaimana. Supaya harga DOC juga segera bisa mengikuti sesuai arahan dari Badan Pangan Nasional demikian juga untuk pakan," harapnya.
Tentang kenaikan harga BBM, Yudi belum bisa memprediksi. Hanya saja dia mengakui ada dampak terkait harga telur. Kondisi ini bisa berlaku untuk sejumlah bahan pokok lainnya.
"Jadi jangan sampai kenaikannya ini terlalu berlebihan. Maka kalau semua kenaikannya ini akan berlebihan tentunya juga akan memukul produksi kami. Otomatis akan memukum produksi kami karena kami ada di hilir," ujarnya. (Dwi) Editor : Editor News