RADAR JOGJA - Apa persamaan politisi dengan komika? Bagi anggota DPD RI dari daerah pemilihan DIJ GKR Hemas, keduanya memiliki keresahan yang sama. Karena itu generasi muda, dan juga para komika harus mendapatkan informasi yang benar, data yang valid, dan dari sumber yang reliable.
Hal itu disampaikan GKR Hemas dalam sosialisasi Pancasila di Tilasawa Café, Depok, Sleman, Kamis (9/6). Menurut dia, dalam dunia Stand Up Comedy yang penuh dengan roasting, riffing, dan men-deliver keresahan generasi milenial. Sebenarnya sama juga, politisi juga punya berbagai keresahan. Politisi punya keresahan tentang pembangunan, persatuan, dan kesejahteraan masyarakat. "Mungkin banyak politisi yang sibuk dengan politik kekuasaan dan konglomerasi bisnis. Tetapi di Jogja kita tidak punya kesempatan seperti itu. Bahkan keinginan yang terlintas sedikit saja, tidak ada," tuturnya.
Di Jogja, katanya, disibukkan dengan upaya menangani pandemi, mengangkat kembali UMKM, membangkitkan pariwisata, menjaga toleransi antar agama, mendukung kegiatan difabel, mendorong usaha kerajinan rakyat, dan juga memberikan perhatian kepada perempuan dan anak. Untuk itulah, kami mohon kepada generasi muda untuk terus ikut membantu membangun bangsa ini, baik dari sisi politik maupun ekonomi; jaga persatuan, kedamaian dan toleransi," pesannya.
Apalagi Jogja, lanjut dia, adalah tempat bangsa ini melihat semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Jogja adalah Indonesia mini. Istri Gubernur DIJ itu mencontohkan, mahasiswa dari Papua dan Aceh bertemu di Jogja. Begitu juga yang dari Medan, Padang, Palembang, Ambon, Menado, Makassar, Balikpapan, Lombok, Bali, semuanya bertemu di Jogja. Orang-orang dari Jakarta, Bandung, Solo, dan Malang juga meramaikan Jogja. "Mungkin itulah kemudahan yang saya dapatkan, tidak terlalu sulit bagi politisi di Jogja untuk melihat perkembangan persatuan dan kesatuan bangsa," ungkapnya.
Ibu lima puteri itu menyebut, komika juga sudah banyak berprestasi dan menyumbang ide tentang persatuan nasional ini. Terutama di tengah pertikaian politik pada tingkat nasional. Dia mencatat ada show stand up yang berjudul Bhinneka Tunggal Tawa, Nasionalisme, dan Hiduplah Indonesia Maya. Lalu ada juga komika yang suka memberikan masukan kepada pemerintah seperti Bintang Emon dan Ernest Prakasa. "Semuanya bisa membuat kita tertawa bahagia di tengah perpecahan politik, termasuk pada masa pilpres tahun 2014 dan 2019," jelasnya.
Dia pun mengajak, generasi muda harus terus meningkatkan kesadaran politiknya. Karena itu pemuda harus cerdas dan sadar akan hak konstitusional sebagai Warga Negara Indonesia. Pemuda harus berpartisipasi dalam proses kritis untuk menentukan pilihan. Partisipasi berarti ikut menentukan pemimpin nasional yang akan mengelola negara. Data yang ada, lebih dari 34 persen pemilih di Indonesia pada Pemilu 2019 adalah pemuda. Di DIJ angkanya mencapai 45 persen. "Pemuda selayaknya menjadi pemilih cerdas. Sebelum memilih, pemilih cerdas akan mencari informasi sebanyak mungkin tentang calon pemimpin yang akan dipilih," tuturnya. (pra)
Editor : Editor Content