RADAR JOGJA – Rania Naura Anindhita, 21, berhasil menciptakan penetral bau sampah. Mahasiswi Fakultas Biologi UGM ini, memanfaatkan air lindi atau cairan yang dihasilkan dari pemaparan air hujan di tumpukan sampah. Inovasi ramah lingkungan yang diteliti selama satu tahun itu, dinamai Eco Lindi.
Untuk menghasilkan eco lindi, air lindi dicampurkan dengan aki atau asam sulfat, bio katalis, dan molase atau limbah gula. Masing-masing perbandingannya adalah 5:1:3:2. Semuanya diaduk bersama dalam wadah kedap udara hingga berwarna coklat dan mengental. Dalam satu hari, bisa memproduksi 10 ribu liter eco lindi. “Harus dicampur dengan air (sebelum digunakan, Red)," kata Rania sembari menunjukkan cairan eco lindi kemarin (3/6).
Perbandingannya adalah satu liter eco lindi dicampurkan dengan 50 liter air. Setelah tercampur, cairan hanya perlu disemprotkan pada sampah. Dama waktu 10 menit, bau sampah akan netral.
Hasil penelitian ini, lanjutnya, telah diujicobakan di beberapa tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) maupun tempat pembuangan akhir (TPA) di tempat tinggalnya yakni Sidoharjo. Uji coba, bekerjasama dengan dinas lingkungan hidup dan kehutanan. Menyasar beberapa bank sampah, tempat pembuangan sementara (TPS) pemerintah maupun swasta, peternakan, hingga pasar. "Area tambak udang yang sebelumnya tercemar dari air lindi sampah dan menyebabkan biota tambak mati. Sebulan uji coba disemprotkan cairan eco lindi, ikan dan udang masih hidup. Perbedaannya signifikan," bebernya.
Rania pun menyebut, pembuatan eco lindi cenderung murah. Karena bahan utamanya bisa didapatkan dari pengelolaan air lindi pada TPST atau TPA.
Sedangkan untuk molase, dapat meminta limbahnya di pabrik gula. Aki bisa diperoleh seharga Rp 7 ribu di bengkel kendaraan. Namun untuk bio katalis, agak sulit didapatkan karena dibatasi. Meski demikian, diakuinya tidak semua wilayah bisa mendapatkan semua bahan dengan mudah. Seperti tidak semua TPA atau TPST, memiliki tempat pengelolaan air lindinya. "Kalau nilai ekonomisnya, dalam sehari sampah masuk ke TPA membutuhkan enam liter eco lindi," ungkap mahasiswi semester enam ini.
Sehingga total dalam sehari kebutuhan cairan eco lindi siap semprot mencapai 300 liter. Estimasinya dalam satu bulan, membutuhkan sekitar Rp 2 juta untuk menetralkan bau sampah. "Menurut saya ini cukup ekonomis bila dibandingkan dengan penetralisir bau dari bahan lainnya," kata dia.
Saat ini, temuannya masih terus dikembangkan lagi. Koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman dan TPST Piyungan terkait percobaan berikutnya telah dilakukan. Namun, pengaplikasiannya masih menunggu respon. "Kalau ramah lingkungan, telah dibuktikan di Sidoharjo, ," tegasnya.
Selain bisa digunakan untuk sampah padat, eco lindi juga dapat digunakan pada limbah cair. Sekalipun digunakan untuk menetralisir bau lindi itu sendiri. (mel/eno) Editor : Editor Content