Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tergerak Lestarikan Anggrek Merapi

Editor Content • Selasa, 4 Januari 2022 - 17:17 WIB
MAGNET WISATA: Meski hari biasa, para pengunjung tampak memadati kawasan Concourse, Kompleks Candi Borobudur.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
MAGNET WISATA: Meski hari biasa, para pengunjung tampak memadati kawasan Concourse, Kompleks Candi Borobudur.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
RADAR JOGJA – Warga RT 01/RW 12 Ngipiksari, Hargobinangun, Pakem, Sleman berkomitmen mengembangkan kampung anggrek. Sejak dikukuhkan sebagai rintisan kampung anggrek pada 2020 lalu, warga semakin antusias menanam anggrek. Bukan sekadar menjadi kampung wisata, hal ini juga dilakukan untuk melestarikan tanaman anggrek terutama anggrek lokal Merapi.

Kampung ini berada di Kaliurang bagian selatan. Berdekatan dengan tempat pemungutan retribusi (TPR) Wisata Kaliurang. Jika dari arah selatan, kampung ini menjorok masuk ke arah timur laut. Dari gerbang masuk kampungnya saja sudah tampak beberapa jenis tanaman anggrek tanah yang belum berbunga. Lalu di kiri kanan rumah warga juga menanam pohon anggrek. Ada yang digantung pot dengan medium tanam serabut buah kelapa (sepet), ada pula yang ditempel ke dinding maupun pada tumbuhan sekitarnya.

Tampak rintisan kampung anggrek ini masih terus dikembangkan. Di dinding-dinding pagar rumah warga juga tampak berjajar rapi anakan anggrek, hasil budidaya masyarakat setempat. Mayoritas jenisnya anggrek vandal. Saat Radar Jogja berkunjung ke kampung ini, disambut tiga perempuan yang tergabung dalam kelompok Puspa Merapi, kelompok rintisan kampung anggrek ini. Ketiga perempuan itu, haitu,Andayani, 52, Nurmiati, 29 dan Indah Fajarwati, 35. Mereka tidak segan menunjukkan pusat lokasi pengembangan anggrekbdi kampjng tersebut. Tepatnya di halaman rumah pribadi RT 01 setempat.

"Ada banyak jenis anggrek Merapi. Tetapi yang khas dari Merapi yaitu vanda tricolor dengan bunga terdiri dari tiga macam warna, putih, ungu dan kecoklatan," kata Indah menunjukkan berbagai jenis pengembangan anggrek venda, di studio anggrek, kemarin (2/1). Anggrek venda memilika daun yang mencabang menyerupai huruf "V". Pohonnya bisa tumbuh membesar dan mahkota bunganya kuris. Jika dipandang sekilas menyerupai seekor serangga.

Ada juga jenis anggrek-anggrek lainnya. Seperti anggrek spathoglottis spesies anggrek tanah, den crumenatum atau anggrek merpati, anggrek bulan, arundina (anggrek bambu), papio (anggrek selop), scorpio arachnis, rhynchostylis retusa (anggrek buntut bajing, liparis dan lainnya.

Liparis, kuku macan dan lain-lain. Tanaman anggrek ini dikembangkan dengan metode tanam manual. Perawatannya, cukup simpel disiram dua kali sehari. Pupuknya mengunakan air kencing kucing. Mediumnya bervariatif sebagaimana diterangkan dalam paragraf sebelumnya.

Warga kampung ini semakin eksis dengan komitmennya melestarikan anggrek. Belum lama ini kelompok Puspa mendapatkan bantuan danais dari Pemprov DIJ. Bantuan tersebut diwujudkan dengan gepura-gapura dari besi. Totalnya ada 13 titik lokasi yang terpasang. Nah, di jembatan ini rencananya juga ditanami anggrek, sehingga, begitu masuk kampung tanaman anggrek rindang. Pemandangan kampung menjadi lebih asri. Terlebih saat Sepetember dan Oktober, mayoritas jenis anggrek berbunga pada bulan ini.

Ada ribuan jumah anggrek di studio tersebut dengan 25 jumlah spesies. Namun, tidak semua jenis anggrek nantinya dapat diperjualbelikan. Tetapi hanya sebatas pengembangan karena dilindungi. Rata-raga anggrek yang diperjual belikan, anggrek bulan. Dengan harga berkisar Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribuan. Tergantung usia dan besar kecilnya tanaman.

Rintisan kampung anggrek membawa berkah. Dampak positifnya, warga semakin teredukasi untuk peduli terhadap tanaman khususnya anggrek. Ke depan kampung ini hendak diproyeksikan sebagai tempat wisata. Warga menangkap peluang budidaya bunga anggrek untuk selanjutnya dikembangkan menjadi souvenir oleh-oleh saat berkunjung ke Kaliurang. "Kini rintisan kampung anggrek dikemas menjadi paket wisata. Bekerjasama dengan jeep," imbuh Nurmiati.

Pada liburan Natal dan tahun baru ini sudah beberapa kali mendapatkan kunjungan wisata. Mereka penasaran dengan macam-macam anggrek yang sebagian didapatkan dari lokal Merapi ini. Andayani menambahkan, kampung anggrek ini diritis sejak awal pandemi Covid-19. Karena saat itu kegiatan pariwisata ditutup, warga beralih meningkatkan ketahanan pangan. Mulai dari menanam sayur-sayuran hingga akhirnya berkebun ganaman hias. Lalu masyarakat setempat sepakat menanam anggrek. "Sebagai pemantik, dulu setiap rumah mendapatkan dua jenis anggrek yang wajib ditanam di rumahnya," kata dia.

Tetapi seiring berjalannya waktu, warga justru ketagihan menanam lagi. Ada lebih dari 50 rumah dan 77 kepala keluarga di RT ini. Semuanya, telah menanam anggrek di rumah masing-masing. Tak hanya itu, warga semakin greget menanam tanaman lainnya, seperti tanaman parijoto ada pula yang membuat kebun stroberi. (mel/pra) Editor : Editor Content
#Sleman #Jelajah Desa #Anggrek Merapi