Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wisata Ditutup, Buka Donasi Pakan Satwa

Editor Content • Selasa, 3 Agustus 2021 | 18:39 WIB
UNGKAP KASUS: Kapolsek Mlati Kompol Andhies F Utomo dan jajarannya saat menggelar konferensi pers di kantornya,  (30/6).(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA )
UNGKAP KASUS: Kapolsek Mlati Kompol Andhies F Utomo dan jajarannya saat menggelar konferensi pers di kantornya,  (30/6).(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA )
RADAR JOGJA – Semenjak pariwisata di DIJ di tutup, Jogja Exotarium tidak dapat berkutik lagi. Sudah sepekan ini, sang owner, Akbar Taruna membuka donasi bantuan untuk menghidupi satwa-satwa miliknya.

Ada 350 ekor satwa. Jenisnya beragam. Mulai dari reptile, iguana, tokek, katak karnivora, ular, beragam ikan, burung, musang, kura-kura, kelinci, kambing hingga kuda, dirawat di tempat wisata mini zoo ini. Akbar Taruna menceritakan, setahun lebih dihujam pandemi Covid-19, usahanya terpuruk. Meski berbagai upaya untuk bangkit telah dilakukan. Hasilnya jauh dari angan. ”Pasca-new normal, Januari sampai awal Juni 2021 kita sebenarnya sudah bisa bertahan. Begitu aturan wisata tidak diperkenankan, ya terhempas lagi,” kata Akbar ditemui Radar Jogja, Senin (2/8).

Diperburuk aturan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat pada awal Juli, kemarin. Untuk dapat bertahan, pihaknya melakukan sistem kerja rolling kepada karyawannya. Pada saat normal, sebelium pandemi, jumlah karyawannya ada 60 orang. Begitu dihujam pandemi dia mengurangi jumlah karyawan. Hanya 30 orang yang bekerja.”Ini saja gantian lima hari masuk, lima hari kerja. Seminggu ini kita juga mulai menggalang dana bagi satwa kami,” ucap Akbar sekaligus Dokter Hewan dari UGM ini.

Donasi dapat berupa bantuan dana maupun pakan ternak yang dapat diantar langsung ke lokasi Jogja Exatorium. Sepekan membuka donasi, kata dia, anggaran belum mampu mencukupi kebutuhan satwa, sebesar Rp 35 juta per bulan.

Dia menyebutkan, sejak PPKM Darurat berjalan, pihaknya tidak mendapatkan pemasukan karena tutup total. Akibatnya, berdampak pada pemeliharaan satwa. Biaya penanganan satwa yang biasanya bersumber dari kunjungan tiket wisata, nihil.

Untuk menghemat anggaran pakan, beberapa satwa, seperti kuda dan kambing di lepasakan untuk merumput di tanah lapang sekitar. Dari pukul 07.00 hingga 11.00. Sementara untuk menggaji karyawannya dia mengandalkan pinjaman. Untuk mengelola keseluruhan area mini zoo ini, dia sampai manjual aset.”Setelah era new normal itu, sempat ada kenaikan 10 persen, dari nol persen. Kini balik nol persen lagi,” sebutnya.

Sebelumnya, pada awal pandemi 2020 lalu, pihaknya juga telah mengajukan bantuan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIJ. Karena seluruh anggaran difokuskan untuk penanganan Covid-19, maka upaya tersebut tidak dapat dipenuhi.

Dia berharap pemerintah tidak memperpanjang lagi PPKM level empat ini. Pemerintah diminta melonggarkan kebijakan, agar pariwisata dibuka kembali. Paling tidak, dengan syarat ketat. Misalnya, harus dengan swab antigen atau vaksinasi minimal satu kali (dosis pertama, red). ”kecuali pemerintah memberikan bantuan,” tegasnya.

Salah seorang karyawan, Arum Firman berharap, kondisi ini segera berakhir. Wisata dapat segera bangkit. Pihaknya pun dapat memberikan edukasi satwa seperti sedia kala. (mel/pra) Editor : Editor Content
#DIJ #PPKM