Seorang warga Mlati, Sleman, Harjono turut menanam ribuan bibit porang. Ada 11 ribuan bibit porang. Dia tanam di wilayah Godean dan Turi. Harjono mengatakan, porang dapat menjadi terobosan baru di sektor pertanian. Apabila, nantinya berhasil layaknya di Madiun, Jawa Timur. Dia kepincut menanam porang, sebab dinilai lebih potensif dibandingkan tanam padi. Jika hasilnya bagus, tentu bisa tembus pasar ekspor. Itu yang membuat orang tergiur budidaya tanaman jenis umbi-umbian ini. "Ya, coba-coba saja. Sekalian mengolah tanah dari pada menganggur," kata Harjono Senin (18/1).
Hasilnya jauh menguntungkan dibanding tanam padi. Sebab, sistem penanamannya bisa dengan cara tumpang sari. Bisa dengan palawija atau tanaman buah lainnya. Perawatannya juga cukup mudah dan tak perlu banyak memakan air, layaknya padi. Dari jumlah bibit yang dia tanam, setengahnya dia tanam di persawahan seluas setengah hektare. Yang mana separonya masih dia tanami padi. Separo bibit lainnya dia tanam di pekarangan rumah ditumpang-sarikan dengan buah alpokat. "Usianya masih kecil satu bulan sampai 45 hari," ungkapnya.
Seorang penjual bibit porang di Padukuhan Kalongan RT 7 RW 14, Tlogoadi, Mlati, Sleman Ahmad Hasan, mengaku, sudah menjual ribuan bahkan belasan ribu bibit tanaman jenis Amorphophallus muelleri ini. Menurutnya, saat ini tanaman porang sedang trend di dunia pertanian. Terlebih memiliki prospek yang baik karena diminati di pasar ekspor. "Peminatnya banyak dari luar negeri terutama di Jepang. Diolah menjadi tepung," ungkap Hasan.
Pesanan pun semakin deras tiga bulan terakhir ini. Permintaan di DIJ paling gencar dari bumi handayani Gunungkidul, Kulonprogo dan belum lama ini juga empat ribu bibit ludes diborong warga Turi, Sleman. Ada yang meminta bibit untuk tanaman pekarangan ada juga untuk perkebunan. Bahkan dirinya sempat mengaku kewalahan tangani permintaan lantaran, masih minimnya stok bibit.
"Ini stok sisa, usianya sekitar tiga bulan," ungkapnya sembari menunjukkan bibit porang.
Disebutkan ada tiga jenis pembibitan. Ada yang melalui spora (bunga), titik tumbuh atau umbi katak dan melalui potongan umbi batang. Kendati begitu, hanya pembibitan melalui umbi katak saja yang dia jual. Karena dinilai kualitasnya lebih unggul. Harganya pun juga cukup menantang, per kg umbi katak senilai Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. Jika ditanam hasilnya menjadi ratusan bahkan ribuan bibit. “Satu bibit umbi katak tanaman porang yang di polibag dibanderol harga Rp 5 ribu,” jelasnya. (mel/pra) Editor : Editor Content