Kala itu dia bersama keluarganya tengah mengunjungi resepsi pernikahan di Turgo, Purwobinangun Pakem Sleman. Siapa sangka, itu adalah hajatan terakhir dengan keluarganya.
Tanpa ada peringatan fenomena yang akrab dengan nama wedus gembel menerjang pasangan pengantin, keluarga pengantin dan warga yang hadir dalam hajatan. Termasuk kedua anak, istri dan kedua orangtuanya.
"Keluarga semuanya meninggal. Anak 2, istri dan orangtua meninggal semua. Saya kehilangan lima anggota keluarga. Saya ingat itu datang ke resepsi tanggal 22 November 1994," kenangnya ditemui di di Ruang Lindung Darurat Tunggul Arum, Jumat (8/1).
Walau pahit, Sukirno tetap mengingat dengan jelas kejadian tersebut. Dari total ratusan warga yang hadir hajatan, sekitar 80 diantaranya meninggal dunia. Coba mengingat-ingat, pria ini menuturkan ada sekitar 12 hingga 16 korban yang selamat.
Disinggung tentang peringatan dini, dia tak menampik telah ada. Hanya saja saat itu warga memiliki tekad dan kepercayaan yang kuat. Mereka meyakini bahwa aliran lahar dan awan panas tak akan melalui wilayah Dusun Turgo.
"Orangtua jaman dulu bilangnya Merapi wes duwe dalan dewe (jalan sendiri). Ini jadi pegangan warga kala itu. Ditambah saat itu belum ada alat canggih seperti HT (handy talkie)," katanya.
Peringatan dini, lanjutnya, hadir dalam kemasan tradisional. Berupa bende atau sejenis gong ukuran kecil. Letaknya berada di sisi utara desa dengan visual Merapi. Apabila terjadi erupsi atau muncul awan panas maka bende akan dipukul sekeras mungkin.
Sayangnya alat peringatan dini satu-satunya ini juga tak berfungsi. Pos tempat penempatan bende telah luluh lantah akibat terjangan awan panas Gunung Merapi. Tak hanya menyapu bangunan tapi juga orang yang bertugas memukul bende tersebut.
"Ternyata bende sudah kena duluan. Jadi warga tidak tahu kalau (Gunung Merapi) ada aktivitas. Biasanya ada tanda-tanda dulu, kata orang Jawa wangsit atau apa. Seandianya mau terjadi siang, pagi sudah ada tanda-tanda. Tapi ini terjadi begitu saja," ceritanya.
Warga Dusun Tunggul Arum Wonokerto Turi ini menceritakan sempat ada warga yang mengecek kondisi Sungai Boyong. Kala itu suhu air sungai cukup tinggi bahkan panas. Kondisi ini terjadi pagi hari, tepatnya pukul 07.00. Hingga akhirnya erupsi terjadi sekitar pukul 11.00, siang harinya.
Saat erupsi terjadi, dia bersama keluarganya tengah larut dalam suasana hajatan. Tak ada suara dentuman hingga akhirnya awan panas tiba. Sang wedus gembel dengan cepat menyapu lokasi hajatan. Setelah semuanya mereda, barulah terlihat tubuh manusia bergelimpangan.
"Kebetulan bukan lewat sungai, biasanya dari jalur itu. Ini langsung dari atas ada gumpalan seperti bola menuju manten. Tidak bisa lari, langsung tersapu semua. Keluarga manten yang selamat cuma 1, kebetulan sedang belanja di pasar," kisahnya.
Kondisi Sukirno sendiri sangat mengenaskan. Tubuh pria ini mengalami luka bakar hingga 80 persen. Seluruh kulit yang melekat ditubuhnya melepuh. Bekas ini masih terlihat jelas di kedua tangan dan kedua kakinya.
Perawatan medis intensif langsung diterima olehnya. Beragam operasi dia jalani di rumah sakit. Termasuk menjalani operasi plastik. Sayangnya tindakan medis ini tak bisa maksimal. Ini karena seluruh kulitnya telah melepuh.
"Istilahnya hidup tinggal 20 persen, 80 persen harapan meninggal. Bisa sembuh karena dapat bantuan operasi oleh dokter dari Jepang," ujarnya.
Berkat pengalamannya ini, Sukirno ditunjuk sebagai pengurus Ruang Lindung Darurat Tunggul Arum. Pengalamannya akan erupsi Merapi diharapkan mampu menjadi pelajaran penting bagi warga lainnya.
Dia berharap warga benar-benar memperhatikan peringatan dini. Langkah ini demi kebaikan sendiri dan keluarga. Patuh dan mengikuti seluruh mitigasi bencana yang telah disiapkan.
"Sekarang saja menjaga ruang lindung ini. Bangunan ini fungsinya untuk melindungi warga dari awan panas, tapi tidak dari lahar. Semoga kondisinya tetap aman kalau memang terjadi erupsi," katanya. (dwi/sky) Editor : Editor News