Seperti halnya yang dilakukan Arsita. Ibu rumah tangga asal Ngaglik, Sleman ini getol menanam sayuran. Dia menanam sayuran dengan sistem hidroponik. Kegiatan ini baru dia ditekuni saat pandemi. Ada cabai, sawi, tomat, kangkung dan ubi. Sebagian dia tanam di teras rumahnya, sebagian lagi dia tanam di kebunnya."Ini sangat membantu dalam kondisi yang pelik ini," katanya Sabtu (26/12). Jika dalam sehari dia biasa mengeluarkan kocek lebih dari Rp 50 ribu.
Saat pandemi ini dia justru mampu menekan pengeluaran hingga Rp 20 ribu.
Arsita merupakan korban PHK. Sebelumnya dia bekerja di Jakarta. Dia menyadari, bertani itu penting. Merupakan salah satu solusi menghadapi ekonomi di tengah pandemi.
Petani sekaligus pemilik Joglo Tani di Godean, Sleman T.O Suprapto menyebut, kemandirian pangan perlu digencarkan. Bukan hanya memenuhi kebutuhan pangan. Tetapi juga bisa memanfaatkan pertanian, untuk dikelola kembali sehingga bisa menuai penghasilan. "Prinsipnya adalah tanam apa yang kita makan, makan apa yang kita tanam. Mulai dari akar, batang, buah, bunga dan daun kita manfaatkan," kata pria berusia 63 tahun itu.
Prinsip bertani dengan memelihara ikan juga bisa diterapkan. Bahkan, menanam padi dalam polibag bisa dilakukan apabila tak punya lahan luas. Dikatakan, Joglo Tani sejak 2016 lalu sudah konsisten dengan sistem kemandirian pangan. Dia menyebut, sejak pandemi ini, minat bertani di masyarakat mulai meningkat. Hal ini berdasarkan, meningkatnya kunjungan tamu hendak belajar bertani. Pihaknya juga diminta untuk mengisi materi diskusi maupun melakukan pendampingan. Tidak hanya di lokal Sleman melainkan juga di luar daerah. "Khususnya ibu-ibu kalangan rumah tangga gencar bertani, saat ini," tuturnya. (mel/pra) Editor : Editor Content