Dari data terakhir pada Jumat (13/3) tercatat ada 22 orang yang melakukan konvoi atau balap liar.
Ada 32 orang yang membawa atau menyalakan petasan. Lalu 11 orang akan tawuran dan satu orang kedapatan membawa minuman keras.
Kabag Ops Polresta Sleman Kompol Masnoto menjelaskan, modus umum yang dilakukan adalah sekelompok anak mewacanakan kegiatan buka bersama.
Lalu disertai kegiatan pesta dan musik. Namun, saat pulang rombongan dengan sengaja tidak tertib berlalu lintas kemudian di jalan menyalakan kembang api.
Tindakan ini berpotensi mengganggu ketertiban, menyebabkan kemacetan, termasuk bisa terjadi singgunggan dengan kelompok lain.
Atas tindakan anak-anak dan remaja ini dia sebut telah dilakukan pembinaan.
Hal ini dengan menghadirkan orang tua, sekolah, hingga tokoh masyarakat. Harapannya ke depan mereka bisa berkelakuan baik.
"Selama Ramadan ini kami laksanakan kegiatan rutin ditingkatkan baik siang atau sore hari," katanya, Minggu (15/3).
Dia menyebut, telah ditempatkan anggota kepolisian di jalur-jalur yang mungkin dilewati rombongan semacam ini.
Misalnya, Ringroad, Jalan Kaliurang, hingga Jalan Jogja-Solo. Harapannya bisa mengantisipasi potensi kerawanan setelah buka bersama.
Anggota kepolisian juga melaksanakan kegiatan yang tingkatkan saat dini hari dari pukul 01.00 hingga 06.00.
Hal ini untuk mengantisipasi kejahatan jalanan, balap liar, perang sarung, hingga penggunaan petasan.
"Terkait hal semacam ini sampai saat ini sudah mampu diminimalkan dan aman terkendali," ujarnya.
Kepolisian juga akan diterjunkan ketika malam takbir untuk menekan potensi kerawanan macet hingga gesekan antar kelompok.
Masnoto mengingatkan untuk takbiran maksimal dilaksanakan pada pukul 23.00. Kelompok yang masih berkegiatan pada pukul tersebut nantinya akan diminta untuk segera kembali.
"Polri ada hotline 110. Silakan sampaikan jika aduan dan akan segera ditindaklanjuti," katanya. (del)
Editor : Bahana.