SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi tetap tinggi pada Kamis (11/3/2026). Badan Geologi mencatat 134 guguran, 80 gempa hybrid, serta 15 kali luncuran lava pijar hingga 2 km ke sektor barat daya. Status Level III (Siaga) dipertahankan, potensi awan panas guguran mengancam sungai-sungai di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten.
Gunung Merapi (2.968 mdpl) yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan. Berdasarkan Laporan Aktivitas Gunung Api (VAR) periode pengamatan 11 Maret 2026 pukul 00.00–24.00 WIB dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), tercatat beragam kegempaan dan pengamatan visual yang mengindikasikan suplai magma masih berlangsung.
Gunung tampak jelas meski sesekali diselimuti kabut tipis hingga sedang. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas tipis teramati setinggi 20 meter di atas puncak kawah. Cuaca berawan hingga mendung, angin tenang berhembus ke arah timur, barat, dan utara. Suhu udara berkisar 17,1–23,4 °C, kelembaban 71–94,3 %, serta tekanan udara 872,3–917,1 mmHg.
Sepanjang periode pengamatan, BPPTKG mencatat:
- Guguran : 134 kali (amplitudo 2–31 mm, durasi 42,01–188,93 detik)
- Hybrid/Fase Banyak : 80 kali (amplitudo 2–44 mm, durasi 7,75–52,5 detik)
- Vulkanik Dangkal : 2 kali (amplitudo 10–80 mm, durasi 18,67–68,36 detik)
- Tektonik Jauh: 1 kali (amplitudo 3 mm, durasi 76,23 detik)
Selain itu, teramati 15 kali guguran lava mengarah ke barat daya, meliputi Kali Sat/Putih, Kali Krasak, Kali Bebeng, dan Kali Boyong, dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). Potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG) di sektor selatan-barat daya:
- Sungai Boyong maksimal 5 km
- Sungai Bedog, Krasak, Bebeng maksimal 7 km
- Sektor tenggara: Sungai Woro maksimal 3 km, Sungai Gendol 5 km
Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Suplai magma yang masih berlangsung berpotensi memicu APG kapan saja.
Rekomendasi BPPTKG
1. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya.
2. Waspadai bahaya lahar dan APG terutama saat hujan deras di sekitar Gunung Merapi.
3. Antisipasi gangguan abu vulkanik jika erupsi eksplosif terjadi.
4. Jika aktivitas berubah signifikan, status akan ditinjau ulang segera.
Laporan ini disusun oleh petugas BPPTKG Suratno dan Yulianto, bersumber dari Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG, dan BPPTKG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin