SLEMAN - Gelandangan dan pengemis (gepeng) banyak ditemukan di sepanjang Jalan Laksda Adisucipto selama Ramadan. Mereka biasanya berjejer di sisi timur maupun barat saat hari menjelang sore. Pantauan Radar Jogja, ada yang membawa karung, gerobak, hingga becak. Beberapa anak-anak juga terlihat ikut menanti di pinggiran jalan. Dalam satu titik bisa ada satu orang, tetapi tak jarang mereka juga bergerombol.
Salah satunya adalah Heri. Dia mengaku sebagai pemulung sejak 2020. Pria asal Solo ini menyebut pemberi buka puasa pada Ramadan tahun ini cenderung sepi. Berbeda dari tahun sebelumnya. Dulu dalam satu hari dia bisa mendapatkan belasan santunan. Mayoritas memang berupa makanan. Tapi tak jarang berupa uang dan barang seperti tasbih.
Baca Juga: Wasapda! Hujan Lebat Masif Awal Maret, BMKG Deteksi Bibit Siklon 90S: MJO Masuk ke Fase Empat Picu Cuaca Ekstrem di DIY
"Tahun kemarin sehari bisa dapat 19. Ramadan sekarang nasi tiga sudah bagus. Ini saja saya baru dapat satu roti," katanya ditemui saat menanti orang yang memberi rezeki Minggu (1/3).
Dia tidak menampik bahwa memang banyak orang kampung yang tiba-tiba ikut menanti berkah bulan Suci ini. Lalu seperti dirinya ikut menanti makanan di pinggiran jalan. Heri menyebut terkadang mereka saling berbagai informasi lokasi yang banyak ditemukan pemberi buka puasa ini. Hanya saja memang pinggir jalan tetap banyak diminati.
Baca Juga: Head To Head Persela Lamongan vs PSS Sleman, Laskar Joko Tingkir Sedikit Lebih Unggul dari Super Elja
"Kalau saya enggak bisa kerja apa-apa, hanya mengharap belas kasih orang-orang," lontarnya.
Dia menyebut, belum pernah diciduk oleh aparat selama berada di pinggir jalan ini. Harapannya hal itu tidak pernah terjadi. Dirinya juga berusaha seminimal mungkin mengganggu pengguna jalan.
Hal senada diungkapkan oleh Surasmi. Jika tahun sebelumnya bisa dapat sepuluh, kini maksimal dia hanya dapat tiga. Mayoritas berupa makanan seperti nasi kotak dan bungkus. "Gatau sepi kenapa. Ini juga baru dapat dua," kata perempuan yang bekerja sebagai pemulung sejak 2023 ini.
Baca Juga: Jangan Sampai Usaha Masyarakat Mati, DPRD Kulon Progo Meminta Pemkab Segera Jalin Komunikasi Dengan Kampus
Dia mengaku, biasanya mulai berada di pinggir jalan untuk menanti pemberi buka puasa sejak pukul 15.00. Usai di pagi hari mencari rongsokan di tempat sampah. Dia menyebut tidak ada alasan khusus terkait pemilihan titik lokasi. Terpenting adalah tidak di area Janti karena sepengetahuannya merupakan zona merah. Sehingga gepeng tidak diperkenankan berada di sana.
"Kalau harapan pengennya pemerintah bisa membantu dengan memberi modal buat jualan," ucapnya. (del/eno)