Keluarnya Mahasiswa UNY ini turut disambut oleh tim penasihat hukum, teman-teman, maupun koalisi masyarakat sipil.
"Lega, bersyukur sudah bebas apalagi saya juga rindu keluarga dan teman-teman," katanya ditemui di Lapas Cebongan.
Arie mengaku kesan selama ditahan terasa campur aduk. Selama 5 bulan 3 hari dia fokus mengikuti kegiatan dari lapas, seperti olahraga dan beribadah.
Lalu mengobrol dan berbagi ilmu dengan tahanan lain. Sekaligus menyempatkan diri membaca buku di perpustakaan lapas.
"Buku yang saya selesaikan itu ada Sejarah Pangeran Diponegoro, Negara dan Hegemoni karya Antonio Gramsci, lalu ada novel-novel," tambahnya.
Kebebasannya diakui tak lepas dari gelombang solidaritas banyak pihak. Untuk itu dia turut mengucapkan terima kasih.
Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah ini mengaku sampai tak tahu lagi bagaimana bisa membalas kebaikan yang diterima.
Pada kesempatan ini dia turut menyampaikan semangat sekaligus doa bagi para tahanan politik di daerah lain. Harapannya mereka bisa segera bebas.
"Pesan saya tetap kuat dan jangan takut," ucapnya.
Soal beda satu hari antara penghitungan majelis hakim dengan pihak lapas, Arie mengaku tidak masalah dan ikut prosedur saja.
Kembali bermalamnya dia di lapas justru jadi kesempatan untuk bisa bermamitan dengan tahanan yang lain.
Saat ini fokusnya adalah ingin beristirahat dahulu. Lalu bertemu dengan keluarga dan teman-teman.
Dia juga ingin memastikan bagaimana studinya di UNY yang tertunda satu semester karena mesti cuti.
"Pertama ditahan itu semester lima sekarang enam. Nanti diskusi dulu dengan keluarga bagaimana," katanya.
"Ini bukan kebebasan untuk Arie saja, tapi jadi preseden bagi tahanan politik yang masih berjuang di berbagai pengadilan di Indonesia," katanya. (del)
Editor : Bahana.