SLEMAN - Menata pedagang kaki lima (PKL) supaya lebih sejahtera. Membangun sentra PKL di lokasi strategis. Itu langkah awal pengembangan usaha mikro yang menjadi fokus Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman saat ini. Agar PKL naik kelas.
Satu langkah nyata yang telah dilakukan Disperindag Sleman adalah membangun sentra PKL Pangukan dan Bangkrung. Kedua lokasi tersebut masuk wilayah Kalurahan Tridadi, Sleman. Tak jauh dari kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Sleman.
Jarak antara kedua sentra PKL tersebut hanya 1,5 kilometer. Atau sekitar tiga menit berkendara menggunakan sepeda motor.
Kepala Disperindag Kabupaten Sleman Mae Rusmi Suryaningsih mengungkapkan, semula banyak PKL mangkal di pinggir jalan kawasan Pangukan dan Bangkrung. Supaya kawasan itu tampak lebih rapi maka dibangunlah selter PKL di dua kawasan itu.
Saat ini Selter Pangukan ditempati oleh 16 PKL. Sedangkan di Selter Bangkrung ada delapan. Menu yang dijual para PKL tersebut sangat beragam. Mulai angkringan, lotek, gado-gado, bubur ayam, rujak es krim, siomai, batagor, mi ayam, sate ayam, zuppa soup, es kelapa muda, es campur, hingga dawet. "Mereka beroperasi pada hari biasa. Tapi saat Ramadan ini ada penambahan menu dan pedagang. Kalau ada event-event memang bisa tambah," ungkapnya.
Mae menyebut, selter ini turut mengakomodasi kebutuhan PKL Lapangan Pemda yang ingin meraup berkah saat Ramadan. Lantaran izin berjualan di area Lapangan Pemda yang terbatas hanya pada akhir pekan. Maka mereka diarahkan berjualan di selter-selter tersebut pada hari-hari biasa. "Dengan begitu ekonomi lokal tetap bisa bergerak, tetapi tata wilayah juga terjaga ketertibannya," tutur Mae.
Mae mengungkapkan, jam operasional kedua selter tersebut sebenarnya bisa 24 jam. Kendati demikian, selama ini praktiknya masih terbatas. Untuk PKL Bangkrung pukul 06.00 hingga 15.00. Sementara PKL Pangukan pukul 07.00 hingga 22.00.
Meski kedua selter sudah berjalan, kata Mae, masih ada "PR" yang harus dikerjakan dinas. Yakni membangun ciri khas atau keunikan kedua selter tersebut. Lantaran sejauh ini belum ada kuliner yang ikonik.
Meski begitu, saat ini ada beberapa kuliner yang ramai pengunjung. Di Selter Pangukan ada angkringan dan es dawet. Sementara di Selter Bangkrung ada lotek, gado-gado, dan rusak es krim. "Tentu kami pertimbangan apakah nanti juga bisa mengenalkan panganan tradisional yang khas," ucapnya.
Lebih lanjut, Mae mengatakan, saat ini fasilitasi Disperindag Kabupaten Sleman untuk para PKL masih sebatas tempat/selter. Namun, ada beberapa program pengembangan yang dipertimbangkan. Misalnya, kolaborasi dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) terkait bahan pangan berbahaya. Untuk memastikan semua produk yang dijual aman dari zat kimia. Termasuk promosi dan pemeliharaan selter agar pedagang maupun pengunjung bisa semakin nyaman.
Sampai saat ini disperindag belum menarik retribusi kepada PKL di Selter Pangukan maupun Bangkrung hingga proses penataan dan pengembangan tuntas. "Untuk parkir kami juga sudah berkomitmen memang dikelola oleh masyarakat sekitar selter," jelasnya.
Ketua Tim Kerja Penataan Perdagangan Tradisional Disperindag Kabupaten Sleman Friza Ahmad Zafrullah Nur Hakim menambahkan, mayoritas PKL di Selter Pangukan dan Bangkrung adalah warga Sleman. Dia berharap, keberadaan kedua selter PKL tersebut bisa menjadi magnet konsumen karena lebih aman dan nyaman. Dengan begitu, dagangan PKL bisa lebih laris. Para PKL pun lebih sejahtera. Dan perekonomian wilayah Sleman turut meningkat.
Friza menegaskan, pembangunan Selter Pangukan dan Bangkrung memang sejak awal diprioritaskan agar bisa menjadi ladang usaha para PKL. "Ke depan semoga kawasan selter tersebut bisa menjadi pusat kuliner yang tertata, rapi, tertib, nyaman, dan ramai pengunjung," harapnya. (del/yog)
Editor : Sevtia Eka Novarita