SLEMAN – Aktivitas pada periode pengamatan 16 Februari 2026 pukul 00.00–24.00 WIB masih didominasi guguran lava dan awan panas. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan terjadi 2 kali awan panas guguran (APG) dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.000 meter ke arah Kali Krasak.
Berdasarkan laporan resmi MAGMA-VAR dari (PVMBG), status aktivitas Gunung Merapi saat ini Level III (Siaga).
2 Awan Panas dan 103 Guguran Terekam
Dalam laporan kegempaan, tercatat:
Awan Panas Guguran (APG): 2 kali, amplitudo 6 mm, durasi 131,45–141,29 detik
Guguran: 103 kali, amplitudo 2–38 mm, durasi 33,38–192,37 detik
Low Frekuensi: 1 kali
Hybrid/Fase Banyak: 73 kali
Vulkanik Dangkal: 14 kali
Tektonik Jauh: 2 kali
Selain APG, teramati 20 kali guguran lava ke arah Kali Sat/Putih, Kali Krasak, dan Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Secara visual, gunung terpantau jelas dengan kabut 0–III. Asap kawah tidak teramati selama periode pengamatan.
Curah Hujan 38 mm, Waspada Lahar
Dari sisi meteorologi, cuaca di sekitar Merapi terpantau berawan hingga mendung dan cerah. Angin bertiup lemah ke arah timur, utara, dan barat. Suhu udara berkisar 18,4–24,9 derajat Celsius, dengan kelembapan tinggi mencapai 99 persen. Curah hujan tercatat 38 mm per hari.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan turun di sekitar lereng Merapi.
Rekomendasi Resmi BPPTKG
BPPTKG menegaskan sejumlah potensi bahaya yang perlu diwaspadai:
Sektor selatan–barat daya meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km), Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).
Sektor tenggara meliputi Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (maksimal 5 km).
Lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya.
Waspada terhadap abu vulkanik serta potensi perubahan aktivitas.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, sehingga potensi awan panas guguran tetap ada di dalam zona bahaya.
Laporan ini disusun oleh Yulianto dan bersumber dari Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG, serta BPPTKG melalui laman resmi magma.esdm.go.id. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin