SLEMAN – Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi.
Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) untuk periode Selasa, 10 Februari 2026 pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, tercatat satu kali kejadian awan panas guguran dengan jarak luncur sekitar 1.200 meter mengarah ke barat daya, tepatnya ke arah Kali Krasak dan Kali Boyong.
Selain itu, selama periode pengamatan teramati sepuluh kali guguran lava yang dominan mengalir ke arah barat daya, terutama menuju Kali Krasak dan Kali Sat/Putih, dengan jarak luncur terjauh mencapai 1.800 meter.
Asap kawah tidak teramati karena puncak gunung tertutup kabut dengan intensitas bervariasi dari kabut tipis hingga kabut tebal.
Kondisi cuaca di sekitar gunung berawan hingga mendung disertai hujan, dengan angin bertiup tenang hingga lemah ke arah barat dan timur.
Suhu udara berada di kisaran 18,2 hingga 26 derajat Celsius, kelembaban udara sangat tinggi antara 71,8 hingga 99 persen, tekanan udara 873 hingga 918,6 mmHg, serta curah hujan mencapai 34 mm dalam sehari.
Data kegempaan menunjukkan aktivitas yang masih signifikan, termasuk satu kali awan panas guguran dengan amplitudo 43 mm dan durasi 121,7 detik, disertai ratusan guguran, hybrid/fase banyak, serta beberapa gempa vulkanik dangkal dan tektonik jauh.
Suplai magma yang masih berlangsung menjadi penyebab utama potensi terjadinya awan panas guguran lebih lanjut di kawasan rawan bencana.
Status Gunung Merapi tetap berada pada Level III (Siaga).
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran terutama mengarah ke sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong hingga jarak maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km.
Di sektor tenggara, bahaya mengarah ke Sungai Woro maksimal 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km.
Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius 3 km dari puncak.
Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya, mewaspadai bahaya lahar serta awan panas guguran terutama saat hujan deras di sekitar gunung, serta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik yang mungkin tersebar.
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera dievaluasi ulang.
Masyarakat di sekitar Merapi diimbau tetap tenang namun selalu waspada serta mengikuti arahan resmi dari BPPTKG dan pemerintah setempat.
Informasi terbaru dapat diakses melalui situs https://magma.esdm.go.id atau media sosial PVMBG di https://linktr.ee/PVMBG.
Laporan disusun oleh Erwin Widyon berdasarkan data dari Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG, dan BPPTKG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin