SLEMAN – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi tetap berada pada tingkat Siaga (Level III) per pengamatan 24 jam pada 6 Februari 2026.
Data seismik menunjukkan aktivitas internal yang signifikan. Selama periode pengamatan, tercatat 90 kejadian gempa guguran, 90 gempa hybrid/fase banyak, 3 gempa vulkanik dangkal, 5 gempa tektonik jauh, dan 1 gempa low frequency. Secara visual, asap kawah bertekanan lemah dengan ketinggian sekitar 10 meter teramati.
Yang paling mencolok, terjadi dua kali guguran lava pijar ke arah barat daya, tepatnya ke alur Kali Bebeng dan Kali Krasak. Jarak luncur maksimum yang tercapai adalah 1.600 meter dari puncak.
Cuaca di kawasan Merapi didominasi berawan, mendung, dan hujan dengan curah hujan harian 20 mm. Suhu udara berkisar antara 18.1 hingga 22.2 derajat Celsius.
Potensi Bahaya & Rekomendasi Penting BPPTKG
BPPTKG mengingatkan bahwa potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas (APG) di sektor selatan-barat daya meliputi beberapa sungai. Suplai magma ke permukaan dinilai masih berlangsung.
Berikut rekomendasi resmi BPPTKG untuk masyarakat di Kabupaten Sleman (DIY), Magelang, Boyolali, dan Klaten (Jawa Tengah):
1. Tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya.
2. Mewaspadai ancaman awan panas guguran dan lahar, terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.
3. Mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik jika terjadi erupsi.
4. Radius bahaya untuk lontaran material vulkanik (bom) dari letusan eksplosif diperkirakan dapat mencapai 3 km dari puncak.
Status dan Evaluasi Lanjutan
Status Level III (Siaga) tetap dipertahankan. BPPTKG menegaskan bahwa jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.
Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dan terbaru dari Badan Geologi PVMBG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin