SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi (2.968 mdpl) di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih menunjukkan peningkatan. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat terjadinya 1 kali awan panas guguran (APG) serta puluhan guguran lava selama periode pengamatan Rabu, 4 Februari 2026 pukul 00.00–24.00 WIB.
Berdasarkan laporan resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui platform MAGMA-VAR, visual gunung tertutup kabut level 0-III dan kabut 0-II, sehingga asap kawah tidak teramati. Cuaca mendung hingga berawan dengan angin tenang ke arah utara-timur, suhu udara 17,4–25,6 °C, kelembaban 69,6–100%, tekanan udara 873,1–917,6 mmHg, serta curah hujan mencapai 31 mm/hari.
Pada kegempaan, tercatat:
- 1 kali awan panas guguran dengan amplitudo 66 mm dan durasi 130,46 detik.
- 95 kali guguran dengan amplitudo 2–25 mm dan durasi 33,2–228,93 detik.
- 55 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 2–29 mm, S-P 0,3–0,8 detik, durasi 7,29–49,51 detik.
- 3 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 2–6 mm dan durasi 32,65–124,38 detik.
Secara visual, teramati 1 kali awan panas guguran mengarah ke Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter. Selain itu, guguran lava terpantau 2 kali ke arah Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 1.500 meter.
Status aktivitas Gunung Merapi tetap berada pada Level III (Siaga). BPPTKG menyatakan suplai magma masih berlangsung, sehingga berpotensi memicu awan panas guguran lebih lanjut di dalam zona potensi bahaya.
Rekomendasi BPPTKG bagi masyarakat dan wisatawan:
1. Potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas guguran di sektor selatan-barat daya mencakup Sungai Boyong (maks 5 km), Sungai Bedog, Krasak, Bebeng (maks 7 km); sektor tenggara mencakup Sungai Woro (maks 3 km) dan Sungai Gendol (maks 5 km). Lontaran material vulkanik saat letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
2. Tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya.
3. Waspadai bahaya lahar dan awan panas guguran terutama saat hujan di sekitar Gunung Merapi.
4. Antisipasi gangguan akibat abu vulkanik jika terjadi erupsi.
5. Jika terjadi perubahan aktivitas signifikan, status akan segera ditinjau ulang.
Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada, serta mengikuti informasi resmi dari BPPTKG dan PVMBG. Pantau terus update melalui situs resmi https://magma.esdm.go.id atau media sosial PVMBG di https://linktr.ee/PVMBG.
Laporan disusun oleh pengamat Yulianto, sumber data KESDM, Badan Geologi, PVMBG, dan BPPTKG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin