Untuk itu, dilakukan pemindahan ke lokasi lain pada Rabu (4/2). Jaraknya sekitar 500 meter dari lokasi lama dan masih berada dalam satu padukuhan yang sama.
Ketua Tim Pemindahan Makam Ringin Mulyo, Kunto Raharjo menjelaskan, jumlah jenazah di makam ini sebenarnya ada ratusan.
Hanya saja tidak semuanya ikut terdampak. Prosesi pemindahan sendiri diawali dengan doa bersama dengan ahli waris, tim pemindahan, maupun tokoh masyarakat.
"Doa bersama mulai pukul 07.00. Lalu pukul 09.00 jenazah sudah mulai dipindahkan," terangnya ditemui di sela-sela acara.
Dia menyebutkan, lokasi baru merupakan tanah berstatus sultanaat ground (SG). Dulunya pernah dipakai untuk kelompok ternak, tetapi sudah berhenti.
Kini hanya berupa lahan kosong saja. Meski jarak tidak jauh, tim pemindahan makam harus menyebrang melewati Jalan Jogja-Solo yang padat.
Termasuk menyebrang rel kereta api. Proses pemindahan jenazah sendiri dilakukan menggunakan mobil bak terbuka. Dalam sekali angkut bisa membawa 12 jenazah.
"Jadi dari polsek menurunkan petugas untuk membantu kelancaran karena kami menyebrang jalan besar," tambahnya.
Kunto menambahkan, ada sepuluh jenazah yang dipindahkan ke lokasi berbeda, yakni di Makam Umum Karang, Kalasan.
Lantaran permintaan dari ahli waris karena keluarga besar lebih banyak dimakamkan di lokasi tersebut.
"Selama proses pemindahan ini ditemukan juga jenazah tanpa ahli waris. Kami prediksi tambahan ini ada sekitar sepuluh persen," ucapnya.
Sementara itu, Ketua Tim Pelaksana Pemindahan Makam Al Iswat Semarang Joko Yudho menjelaskan, tidak ada kendala dalam pelaksanaan pemindahan makam kali ini.
Terlebih, tanahnya juga cenderung berpasir sehingga memudahkan proses penggalian. Dalam setengah hari bekerja ini sudah 56 jenazah dipindahkan.
Diperkirakan seluruh pemindahan hanya memerlukan waktu dua hari saja jika tidak hujan.
"Kalau hujan deras tentu kami hentikan dan mundur. Total kami bekerja dengan 28 personel," tambahnya.
Disinggung soal proses pemindahan yang harus melewati jalan raya, Joko mengaku tidak jadi hambatan. Lantaran ada petugas yang siap membantu menyebrangkan dan menjaga lalu lintas. Jadi, proses pemindahan bisa berlangsung kondusif.
Dalam makam baru nanti, dia sebut tidak membawa kijing dari makam lama. Termasuk bagi dua makam sesepuh desa yang ikut dipindahkan, yakni Kyai Dogong dan Nyai Dogong.
Sementara untuk makam yang tidak terdampak, tetap dibiarkan kijingnya.
"Kijing lama saat digali biasanya juga sudah hancur dan tidak dibawa ke makam baru. Untuk temuan macam-macam, ada tengkorak sampai tulang-tulang. Kalau utuh tidak ada," jelasnya. (del)
Editor : Bahana.