Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pasar Setum di Ngaglik, Sleman Tetap Bertahan dengan 12 Pedagang, tapi Tak Semuanya Berjualan saat Pasaran

Delima Purnamasari • Senin, 2 Februari 2026 | 21:15 WIB

 

LENGANG: Kondisi Pasar Setum di Sukoharjo, Ngaglik, Sleman yang hanya diisi oleh beberapa pedagang Senin (2/2).
LENGANG: Kondisi Pasar Setum di Sukoharjo, Ngaglik, Sleman yang hanya diisi oleh beberapa pedagang Senin (2/2).

SLEMAN - Eksistensi Pasar Setum mulai redup. Bukan pasar induk, tapi bangunannya termasuk dalam cagar budaya. Sudah tercatat dalam peta Topografische Dienst pada 1927, pasar ini merupakan hasil program perbaikan pasar di era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Dari yang sebelumnya material kayu, diubah jadi besi agar lebih awet.

Namun, pasar yang berlokasi di Sukoharjo, Ngaglik, Sleman ini juga hanya tinggal dua bangunan besi yang sudah keropos. Ditambah dua gubuk reyot yang jadi tempat pedagang berjualan.

Salah satu pedagang Pairah mengaku, sudah berjualan selama lebih dari 40 tahun di pasar ini. Dia bercerita dulunya pasar ini penuh dengan puluhan pedagang. Mereka berjualan di bangunan utama dan gubuk-gubuk yang kini sudah tidak ada.

Baca Juga: Pengunjung Sebut Kepulan Asap Ganggu Kenyamanan, Pedagang Sate Marak Lagi di Malioboro: Satpol PP Jogja Akui Belum Ada Sanksi Yustisi

"Dulu ramai sekali. Ada jualan sayur, ayam, makanan, macem-macem," kenangnya saat ditemui di lokasi Senin (2/2).

Keramaian itu berangsur surut saat pedagang memilih pindah ke Pasar Gentan yang berinovasi buka setiap hari. Berbeda dari sebelumnya yang hanya buka saat Wage dan Pahing. Pasar Setum sendiri buka saat Pon dan Kliwon. Dulunya pedagang saling bergantian berdagang antara dua pasar ini.

"Habis Pasar Gentan dibangun semua di sana. Di Gentan bisa tiap hari jadi sini mati," ucapnya.

Baca Juga: Randu Alas Tuksongo Borobudur Ditebang Bertahap, Ikon Desa Tetap Disisakan demi Keselamatan dan Pariwisata

Kini pasar yang berada di bawah naungan UPTD Pelayanan Pasar Wilayah III ini hanya dihidupi oleh 12 pedagang. Meski demikian, tidak serta-merta semuanya aktif berjualan saat pasaran. Seperti hari ini, pada pasaran Kliwon, hanya ada enam pedagang.

"Saya buka jam 06.30 sampai siang. Tutup kalau temennya pulang ya pulang. Pengennya banyak orang dan pedagang ramai lagi," kata penjual pecel ini.

Hal senada diungkapkan oleh Saminem. Perempuan 55 tahun yang sudah berjualan selama 20 tahun di Pasar Setum. Dia mengaku memilih bertahan karena sudah nyaman. Di sisi lain, tak berani berkendara terlalu jauh untuk berjualan di pasar lain.

Baca Juga: Gelontorkan Rp 160 Juta untuk Pakan, Tapi Monyet Masih Ancam Lahan Pertanian Warga: Bahkan Populasinya Terus Bertambah

"Kalau pendapatan enggak mesti. Yang beli-beli ya sesama temen jualan ini," katanya.

Dia bahkan mengubah komoditas jualannya karena saking sepinya pembeli. Dari dulunya sayur-sayuran segar, kini jadi bahan pangan yang lebih awet. Seperti gula merah hingga singkong.

Saminem juga menyebut, minimnya pedagang juga membuat tidak adanya pembagian lapak yang ketat. Dia bebas berjualan di bagian pasar mana pun karena tidak ada pedagang lain. Meski begitu, para pedagang ini tetap harus membayar uang kebersihan Rp 16 ribu setiap bulannya.

"Pengennya banyak pedagang lagi, tapi gimana cari temen jualan di sini susah," lontarnya.

Baca Juga: Pasca-Libur Nataru, BPS Sebut Kota Jogja Alami Deflasi Signifikan: Ini Penyumbang Utamaya..

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Mae Rusmi Suryaningsih menjelaskan, Pasar Setum memang terus dipertahankan fungsi dan bangunannya. Hal ini karena sudah masuk dalam cagar budaya. Nantinya direncanakan untuk dilakukan sedikit perbaikan. Maupun kerja sama dengan dinas kebudayaan untuk pengembangannya. "Walau memang, diakui minat untuk berdagang itu turun. Tidak seperti dulu karena banyak pesaing," ucapnya. (del/eno) 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Pasar Setum #Sleman #perbaikan #ngaglik #cagar budaya #Pasar Gentan #Disperindag