SLEMAN – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan aktivitas Gunung Merapi masih signifikan selama periode pengamatan 24 jam pada Sabtu, 31 Januari 2026. Status gunungapi tertinggi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini tetap pada Level III (Siaga).
Laporan MAGMA Indonesia yang dirilis BPPTKG menunjukkan, secara visual asap kawah tidak teramati. Namun, secara instrumental tercatat 108 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-41 mm. Selain itu, terekam juga 81 kali gempa hybrid/fase banyak yang mengindikasikan adanya pergerakan fluida magma.
Kegiatan vulkanik yang paling teramati adalah guguran lava pijar atau awan panas (APG). Teramati 9 kali guguran lava mengarah ke Barat Daya, yaitu ke Kali Sat/Putih dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter. Data ini mengonfirmasi bahwa suplai magma dari dalam masih terus berlangsung.
Secara meteorologi, cuaca di sekitar Gunung Merapi bervariasi antara cerah, berawan, hingga mendung dengan angin lemah ke arah timur. Curah hujan tercatat sebesar 47 mm per hari, yang meningkatkan potensi bahaya lahar jika material vulkanik baru terbawa aliran air.
Rekomendasi dan Potensi Bahaya untuk Warga Sleman, Magelang, Boyolali, & Klaten
BPPTKG kembali mengingatkan masyarakat, terutama yang bermukim di Kabupaten Sleman (DIY), serta Magelang, Boyolali, dan Klaten (Jawa Tengah), untuk memperhatikan daerah potensi bahaya saat ini:
1. Sektor Selatan-Barat Daya: Meliputi Sungai Boyong (maks. 5 km), Sungai Bedog, Krasak, Bebeng (maks. 7 km). Ini adalah sektor dengan aktivitas teramati saat ini.
2. Sektor Tenggara: Meliputi Sungai Woro (maks. 3 km) dan Sungai Gendol (5 km).
3. Radius 3 km dari puncak berpotensi terdampak lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif.
Rekomendasi resmi dari BPPTKG adalah:
· Masyarakat dilarang melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya tersebut.
· Mewaspadai bahaya awan panas guguran (APG) dan lahar, terutama saat hujan di seputar Merapi.
· Mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik jika terjadi erupsi.
Tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali jika terjadi perubahan yang signifikan. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BPPTKG melalui kanal Magma Indonesia (https://magma.esdm.go.id) dan media sosial PVMBG (https://linktr.ee/PVMBG).
Laporan ini disusun oleh Alzwar Nurmanaji, A.Md dan Suratno dari BPPTKG, berdasarkan data Kementerian ESDM, Badan Geologi, dan PVMBG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin