YOGYAKARTA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan aktivitas terbaru Gunung Merapi pada periode pengamatan 22 Januari 2026. Berdasarkan laporan resmi MAGMA-VAR, Gunung Merapi menunjukkan aktivitas kegempaan yang cukup tinggi dengan intensitas guguran lava yang terus berlanjut ke arah Barat Daya.
Update Visual dan Guguran Lava
Sepanjang pengamatan pukul 00:00 hingga 24:00 WIB, teramati sebanyak 20 kali guguran lava mengarah ke Barat Daya, tepatnya menuju Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak. Jarak luncur maksimum guguran lava tersebut mencapai 1.800 meter.
Secara visual, gunung setinggi 2.968 mdpl ini terlihat jelas meski sempat tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang, membubung setinggi 25 meter di atas puncak kawah.
Data Kegempaan Merapi
Aktivitas seismik Gunung Merapi didominasi oleh gempa guguran dan fase banyak, yang menandakan suplai magma masih terus berlangsung. Berikut rinciannya:
Gempa Guguran: 100 kali (Amplitudo 3-23 mm, durasi hingga 207 detik).
Gempa Hybrid/Fase Banyak: 67 kali (Amplitudo 2-27 mm).
Gempa Vulkanik Dangkal: 1 kali (Amplitudo 31 mm).
Status dan Rekomendasi Bahaya
Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Merapi berada pada Level III (Siaga). BPPTKG memperingatkan adanya potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas pada sektor Selatan-Barat Daya dan Tenggara.
Radius Bahaya:
1. Sektor Selatan-Barat Daya: Sungai Boyong (maksimal 5 km), Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).
2. Sektor Tenggara: Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (5 km).
3. Lontaran Material: Jika terjadi letusan eksplosif, material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Imbauan untuk Masyarakat
Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya. Mengingat kondisi cuaca yang sering mendung dan hujan di sekitar puncak, warga diimbau waspada terhadap bahaya lahar dingin dan awan panas guguran (APG).
"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," tulis penyusun laporan, Suraji dan Tri Mujiyanta dalam laporan resmi PVMBG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin