YOGYAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta masih terpantau tinggi. Berdasarkan laporan periodik Badan Geologi pada Rabu, 21 Januari 2026, gunungapi ini masih menyandang status Level III (Siaga) dengan aktivitas guguran lava yang intens.
Luncuran Lava ke Arah Barat Daya
Hasil pengamatan selama 24 jam menunjukkan bahwa Gunung Merapi meluncurkan 9 kali guguran lava dengan jarak maksimum mencapai 1.800 meter (1,8 km). Seluruh guguran tersebut mengarah ke Barat Daya, tepatnya menuju aliran Kali Bebeng dan Kali Krasak.
Secara visual, gunung sering tertutup kabut tebal, namun kondisi kegempaan menunjukkan aktivitas internal yang sangat aktif. Tercatat terjadi 107 gempa guguran dan 68 gempa fase banyak (hybrid), yang menandakan bahwa suplai magma dari kedalaman masih berlangsung secara konsisten.
Waspada Potensi Bahaya dan Lahar Hujan
BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi) mengingatkan masyarakat mengenai potensi ancaman awan panas dan guguran lava pada sektor-sektor berikut:
Sektor Selatan-Barat Daya: Meliputi alur Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Sektor Tenggara: Meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km.
Radius Puncak: Lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Selain ancaman awan panas, masyarakat juga diimbau mewaspadai bahaya lahar hujan. Mengingat curah hujan di sekitar Merapi tercatat sebesar 13 mm per hari, aliran lahar dingin di hulu sungai dapat terjadi sewaktu-waktu saat hujan turun di puncak.
Rekomendasi bagi Warga dan Wisatawan
Masyarakat diminta untuk mematuhi rekomendasi resmi dengan tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam zona bahaya yang telah ditetapkan. Selain itu, warga diharapkan menyiapkan langkah antisipasi terhadap gangguan abu vulkanik yang mungkin terjadi akibat erupsi.
Data ini disusun oleh petugas pengamat Gunung Merapi, Suratno dan Yulianto, melalui sistem Magma Indonesia di bawah naungan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin