YOGYAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta masih menunjukkan intensitas yang tinggi.
Berdasarkan laporan terbaru dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) untuk periode pengamatan Minggu, 18 Januari 2026, tercatat telah terjadi belasan kali guguran lava pijar dan satu kali awan panas guguran.
Aktivitas Guguran Lava dan Awan Panas
Dalam laporan yang disusun oleh pengamat gunung api, Suratno dan Yulianto, Gunung Merapi teramati meluncurkan guguran lava sebanyak 19 kali ke arah Barat Daya.
Jarak luncur maksimum material vulkanik ini mencapai 2.000 meter atau 2 kilometer, yang mengarah ke hulu Kali Sat, Kali Bebeng, dan Kali Krasak.
Rekomendasi Keamanan BPPTKG
Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Merapi masih dipertahankan pada Level III atau Siaga. BPPTKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting guna meminimalisir risiko bencana:
Pertama, potensi bahaya saat ini terfokus pada sektor Selatan-Barat Daya.
Ancaman guguran lava dan awan panas diprediksi dapat mencapai jarak maksimal 7 kilometer di sepanjang Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng, serta 5 kilometer di Sungai Boyong.
Baca Juga: Rentetan Kemenangan Barcelona Sirna di Tangan Real Sociedad di La Liga
Kedua, untuk sektor Tenggara, area bahaya meliputi Sungai Gendol sejauh 5 kilometer dan Sungai Woro sejauh 3 kilometer.
Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak gunung.
Ketiga, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya tersebut. BPPTKG juga mengingatkan warga untuk mengantisipasi gangguan abu vulkanik serta selalu waspada terhadap potensi lahar dingin, terutama saat hujan melanda kawasan puncak.
Update mengenai status Merapi akan terus dilakukan secara berkala mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik di lapangan.
Masyarakat diharapkan hanya merujuk pada informasi resmi dari sumber terpercaya seperti PVMBG dan BPPTKG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin