SLEMAN - DPRD Sleman menyoroti masih tingginya angka kekerasan di Bumi Sembada. Sejak Januari hingga Oktober, tercatat ada 134 perempuan yang jadi korban. Mayoritas berupa kekerasan psikis dengan total 39 persen, kekerasan fisik 26 persen, dan kekerasan seksual sejumlah 21 persen.
Wakil Ketua DPRD Sleman Ani Martanti menjelaskan, angka tersebut masih tergolong tinggi. Dia menilai kondisi ini paling banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Jadi, penting agar para perempuan bisa mandiri.
Baca Juga: Gubernur Ahmad Luthfi Pastikan Jawa Tengah Siap Sambut Nataru
"Belum lama ini saya dapat laporan kekerasan, tetapi ibunya tidak berani melapor karena suaminya aparat," sebutnya dalam kegiatan peringatan Hari Ibu di Pendopo DPRD Sleman Minggu (21/12).
Ani menegaskan, penting untuk memberikan wadah agar setiap ibu bisa mendapatkan perlindungan ketika jadi korban kekerasan. Termasuk ruang aman untuk bercerita atas keluh kesahnya selama ini. Agar nantinya tidak dipendam sendiri dan meledak lalu berdampak pada anak.
Baca Juga: LPDB Koperasi dan MUI Bangun Ekonomi Umat Melalui Penguatan Koperasi Sektor Riil
Baginya, komunitas yang bergerak pada isu-isu perempuan juga harus dimasifkan. Agar nantinya bisa mendorong para ibu untuk jadi perempuan berdaya. Bahkan, mendorong kesempatan agar mereka bisa jadi pemimpin, termasuk masuk dalam dunia politik.
"Kuat dan tangguhnya bangsa ini itu karena peran dari seorang ibu. Perannya penting untuk keberlanjutan pemerintahan," ucapnya.
Baca Juga: Ketua DPRD DIY Beri Pesan Kepada Jukir dan Pelaku Wisata saat Libur Nataru: Cari Rezeki Yang Wajar!
Dalam kesempatan ini, Politisi PKB tersebut juga turut merilis bukunya berupa kumpulan puisi berjudul Perempuan Adalah Ayat-Ayat Berjalan. Harapannya bisa jadi motivasi bagi para ibu untuk berani menceritakan kisahnya.
Sementara itu, Aktivis Perempuan Helga Inneke Agustine menilai, saat terjadi kasus kekerasan pada perempuan pasti akan berdampak pada anak. Keduanya adalah kelompok rentan yang kerap dapat kekerasan.
Baca Juga: Sebanyak 60 Ribu Warga Gunungkidul Masuk Sasaran PKG, Mayoritas Usia Produktif
"Saat di rumah bisa dapat kekerasan fisik, tapi saat keluar kerap kena pelecehan. Harus ada perjuangan bersama untuk saling menguatkan," katanya. (del/eno)