SLEMAN - BPPTKG mencatat 11 kali guguran lava dan 75 gempa guguran dalam 24 jam. Masyarakat diimbau mewaspadai bahaya lahar mengingat curah hujan tinggi.
Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa Gunung Merapi meluncurkan awan panas guguran (APG) sebanyak 4 kali dalam periode pengamatan Minggu (9/11/2025).
Warga sekitar Merapi mengenal APG dengan sebutan wedus gembel.
Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih ditetapkan pada Level III (Siaga).
Berdasarkan laporan resmi MAGMA-VAR yang dirilis BPPTKG, aktivitas visual dan seismik Merapi terpantau intens.
Petugas penyusun laporan, Yulianto, merinci bahwa aktivitas guguran dan awan panas teramati dengan jelas.
"Teramati 4 Kali Awanpanas Guguran ke arah Barat daya, yakni menuju Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter (2 km)," tulis Yulianto dalam laporannya.
Selain awan panas, BPPTKG juga mencatat adanya 11 kali guguran lava. Guguran ini meluncur ke arah Kali Sat/Putih dan Kali Krasak dengan jarak luncur lebih pendek, yakni maksimum 1.600 meter (1,6 km).
Secara seismik, aktivitas ini terekam kuat oleh peralatan monitor. Berikut rincian kegempaan yang terjadi: Awan Panas Guguran 4 kali (Amplitudo 10-54 mm, Durasi 104-188 detik)
Guguran: 75 kali (Amplitudo 2-53 mm, Durasi 39-181 detik); Hybrid/Fase Banyak: 61 kali
Vulkanik Dangkal: 1 kali.
"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya," jelas BPPTKG.
Laporan tersebut juga menyoroti kondisi meteorologi di puncak Merapi. Tercatat, volume curah hujan di kawasan puncak cukup tinggi, mencapai 57 mm per hari.
Kondisi ini menambah potensi bahaya sekunder berupa lahar dingin di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
"Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi," imbau BPPTKG.
Dengan status Level III (Siaga), BPPTKG menegaskan kembali area-area yang tidak boleh dimasuki masyarakat. Masyarakat diminta untuk tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
Berikut adalah rincian daerah potensi bahaya saat ini:
Sektor Selatan-Barat Daya:
Sungai Boyong: Maksimal 5 km
Sungai Bedog, Krasak, Bebeng: Maksimal 7 km
Sektor Tenggara:
Sungai Woro: Maksimal 3 km
Sungai Gendol: Maksimal 5 km
Baca Juga: Persiba Bantul Masuk Grup D Liga Nusantara 2025/2026
Selain itu, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif diprediksi dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Masyarakat juga diimbau untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin