SLEMAN – Menyambut bulan Ramadan, masyarakat Jawa memiliki tradisi berupa nyadran atau membersihkan makam leluhur dan diakhiri dengan kenduri di makam.
Namun di Padukuhan Saren, Kalurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, ratusan warga dan pedagang menggelar nyadran bukan di makam melainkan di Pasar Wonosari, Rabu (19/2/2025).
Tradisi ini pun sudah berlangsung selama puluhan tahun secara turun temurun, merupakan ungkapan wujud syukur para pedagang serta upaya mendoakan arwah leluhur.
Terlebih pasar tradisional itu sudah menjadi pusat jual beli masyarakat setempat sejak puluhan tahun dan terus bertahan hingga sekarang.
Kondisi cuaca yang mendung disertai rintik gerimis tidak menyurutkan semangat ratusan warga dan pedagang yang telah memadati pasar untuk mengikuti jalannya puncak acara.
Menurutnya, sejatinya nyadran digelar di makam. Namun, karena keterbatasan kondisi tempat di pemakaman, maka dilaksankan di Pasar Saren sebutan para warga sekitar itu.
Agar seluruh warga yang hadir dari padukuhan sekitar dan luar daerah bisa tertampung seluruhnya.
“Yang datang ini dari Saren dan yang mempunyai trah keluarga dari leluhur di sini atau ahli warisnya,” jelasnya.
Baca Juga: Mengenal Ritual Pemanggil Hujan hingga Sosok Seniman Eksentrik di Balik Tradisi Cowongan Banyumas
Beberapa warga yang ikut prosesi puncak nyadran membawa jodhang, tenong, baki, dan tenggok untuk membawa makanan.
Seorang warga Padukuhan Sarean Titik Marwati, 58, datang dengan membawa jodhang atau semacam tandu yang dibawa dengan cara dipikul. Pada bagian atas tandu diletakkan semacam kotak panjang dari kayu.
“Jodhang ini sudah lama sekali, dibuat oleh mbah buyut saya dan turun-temurun masih bisa dipakai,” ujarnya.
Baca Juga: Hati-Hati Minum Air Lemon Berlebihan Bisa Merusak Gigi
Jodhang yang dibawa ditutup dengan selembar kain. Isinya bermacam jenis makanan. Ada nasi serta lauknya.
Ada pula jajanan pasar, buah hingga ingkung. Nantinya, makanan yang berada di dalam jodhang itu dibagikan kepada warga.
"Dulu yang dibawa itu hasil bumi. Lauknya bikin sendiri, kalau yang jajanan itu kebanyakan beli, menyesuaikan," ucap Titik. (tyo/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita