RADAR JOGJA - Di lampu merah Yogyakarta, termasuk Sleman, kerap ditemui para pemusik. Lengkap dengan berbagai alat memadai berikut pengeras suara dan mikrofonnya. Ternyata mereka tak sekadar mencari uang. Tetapi sekaligus melakukan promosi.
“Mereka yang lewat di jalan itu suka nyari orang nyanyi,” kata Indra Nugraha, pemusik di lampu merah Kentungan, Sleman.
Menurut Indra, penawaran yang datang biasanya akan meminta para pemusik untuk menyanyi di kafe. “Kalau kami diam orang-orang nggak akan tahu makanya turun ke jalan,” tambahnya.
Indra sendiri akan ngamen dengan kuantitas hingga tiga kali sehari. Masing-masing dengan durasi satu jam. Sementara pada malam hari, dia akan menyanyi secara reguler di kafe. “Sekali ngamen bisa dapat Rp 50 ribu,” ujarnya.
Sementara untuk di kafe, Indra bisa mendapatkan sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu. Angka tersebut tergantung dari durasi dan peralatan yang mesti dibawa oleh pemusik.
Para pemusik ini biasanya juga menggunakan pakaian dengan rapi. Mulai dari kemeja, celana panjang, hingga sepatu. Bahkan, beberapa turut menggunakan aksesoris, seperti topi ataupun selendang. “Saya tetap pake aturan. Pokoknya harus sopan,” jelas laki-laki 28 tahun tersebut.
Dia sendiri mengaku menyanyikan lagu dengan berbagai genre. Mulai dari koplo, pop, hingga lagu lama.
Kini, semakin banyak orang yang menjadi pemusik semacam Indra.
Menurutnya, hal tersebut memang bisa berdampak pada pendapatan ngamen yang diperoleh. Meski begitu, Indra sendiri tetap menekankan pentingnya pelayanan dengan membuat lagu terdengar enak bagi para pengendara.
“Rezeki emang dari Tuhan, tapi kalau nggak dijemput juga nggak bisa,” tegasnya.
Indra hanya berharap bisa terus konsisten dalam berkarya hingga nantinya bisa memiliki lagu sendiri. Selain itu, lebih banyak kafe yang memintanya untuk menjadi pengisi. (cr1/eno)