RADAR JOGJA - Seorang mahasiswa asal Klaten, Jawa Tengah bernama Febriyanto,19 harus berurusan dengan polisi usai kedapatan membawa senjata jenis airgun di Masjid Suciati, Sleman. Aksi bak koboi itu dilakukan karena dipicu konflik asmara.
Kanit 1 Satreskrim Polresta Sleman Iptu Iqbal Satya Bimantara mengatakan, kasus kepemilikan senjata tanpa izin itu terjadi pada Selasa (2/4) sekitar pukul 21.40. Bermula dari petugas polisi yang menerima informasi tentang adanya dua orang pengendara motor matic tengah membawa beceng atau pistol.
Oleh petugas, kedua orang yang terindikasi membawa beceng itu kemudian dilakukan pengejaran. Sesampainya di sekitar kawasan Masjid Suciati polisi kemudian berupaya menghentikan dua orang tersebut.
Namun oleh tersangka kendaraannya diputar balik dan membuatnya jatuh.“Setelah itu pelaku diamankan dan petugas berhasil mendapatkan tutup magasin, sehingga para saksi mata pun berinisiatif melakukan pencarian senjata airgun yang dibuang di salah satu atap rumah warga,” ujar Bima sapaanya, kemarin (4/4).
Usai dilakukan penangkapan, Bima mengungkap, bahwa pistol tersebut merupakan milik kerabat tersangka yang diambil tanpa ijin. Senjata jenis air gun bertipe M9A1 itu dibawa tersangka untuk berkelahi dengan mantan pacar kekasihnya yang berinisial W di Jalan Magelang.
Diketahui, saat itu tersangka sedang mengikuti W untuk mencari tempat berkelahi. Namun tanpa diketahui oleh tersangka, ternyata W justru berhenti di Pos Lalu Lintas Jombor yang saat itu dijaga petugas. Karena Febriyanto langsung kabur, petugas pun melakukan penangkapan dan diamankan di Polresta Sleman.
Bima membeberkan, bahwa alasan Febryanto membawa senjata karena in untuk menakuti lawan berkelahinya. Adapun barang bukti yang berhasil diamankan petugas di antaranya satu pucuk senjata jenis airgun dan dua butir amunisi gotri.
Akibat perbuatannya, tersangka Febriyanto harus mendekam di balik jeruji besi. Karena terbukti melanggar Undang-undang Darurat RI Nomor 12 /1951 dengan ancaman pidana penjara paling lama 20 tahun.“Senpi dibawa oleh pelaku dengan cara menyelipkan di celana sebelah kanan,” terang perwira polisi dengan dua balok di pundak itu.
Febriyanto mengaku, membawa senjata api hanya untuk menakut-nakuti lawannya. Dia pun berkelit kalau senjata tersebut akan digunakan untuk melukai seseorang.
Pemuda asal Klaten ini pun mengakui kalau kasus yang menjeratnya didasari emosi. Lantaran ditantang berkelahi oleh mantan pacar kekasihnya melalui direct message (DM) Instagram.“Saya di DM diajak berkelahi,” katanya. (inu/din)
Editor : Satria Pradika